Breaking News:

Berita Surabaya

Tahukah Anda, Kampung Arab di Surabaya Jadi Denyut Nadi Ekonomi Indonesia Sebelum Kedatangan Belanda

Ternyata Kampung Arab di Surabaya merupakan kekuatan ekonomi Indonesia, sebelum ada Penjajah Belanda dan kedatangan Sunan Ampel.

Penulis: Fikri Firmansyah
Editor: Cak Sur
SURYA.CO.ID/Fikri Firmansyah
Salah satu seorang tokoh warga keturunan Arab di kawasan Ampel Surabaya, Abdul Kadir Firdi saat ditemui SURYA.CO.ID, Jumat (16/4/2021). 

Menyebarkan Islam dengan kedamaian yang diamalkan Sunan Ampel itu membuat masyarakat sekitar bisa saling menghormati, meski berbeda komunitas dan agama.

Kata Abah Firdi, di era pertamanya (Sebelum ada Belanda dan Sunan Ampel) komposisi masyarakat di sini terbanyak dari komunitas Jawa, yakni sebesar 70 persen, 20 persen Arab (Yaman) dan sisanya India dan Tionghoa.

Era kedua (Setelah Indonesia merdeka), komposisinya sudah berubah. Sebab, masyarakat tionghoa berpindah tempat ke wilayah Kembang Jepun lantaran merasa Islam semakin menyebar rata pasca kehadiran Sunan Ampel

"Saat era kedua itu, komposisinya 40 persen Jawa, 40 persen Arab (Yaman), 10 persen Madura dan sisanya rata meliputi India dan lain-lain," ungkapnya.

Komposisi itu terus berubah, hingga berhenti saat di era sekarang.

"Di mana saat ini, 50 persen keturunan Arab (Yaman), 40 persen Madura dan 10 persen Jawa," kata Abah Firdi.

Ia menegaskan, perubahan komposisi itu dipengaruhi dari faktor mata pencarian dan penyebaran Islam.

"Jadi kan awal mula komunitas saya (Arab, Yaman) datang ke sini karena memang punya jiwa berdagang dan karena di sini dulu ada pelabuhan pusat perdagangan terbesar di Nusantara, yakni Pelabuhan Kalimas. Maka, mata pencarian yang dipilih masyarakat sini ya berdagang, kemudian ditiru oleh komunitas selain Arab (Yaman). Sehingga saling bekerja sebagai seorang pedagang antar beragam komunitas pun terjadi," tutur Abah Firdi.

Meski sama-sama berdagang, antar komunitas tidak ada yang iri maupun berselisih. Kondisi itu berkat kehadiran Sunan Ampel.

Saat kepemimpinan Sunan Ampel, komunitas yang bisa diajak masuk Islam maupun tidak bisa selalu dirangkul menjadi saudara.

Alhasil, saat semua komunitas masyarakat kompak menjadi berdagang segalanya berjalan dengan damai, karena punya semboyan satu guru dilarang saling bermusuhan.

"Akulturasi budaya yang kuat dalam perdagangan itulah yang membuat wilayah ini berhasil menjadi pusat perdagangan terbesar di penjuru Nusantara hingga kini," pungkasnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved