Breaking News:

Berita Blitar

Meski Dirayu Gubernur Jatim, Orang Tertua di Desa Tepas Blitar Takut Pulang; Mengaku Trauma Gempa

Khofifah tertarik mendengar penuturan Mbah Darmo, yang rumahnya hancur akibat gempa. Yang tersisa adalah bangunan dapurnya

surya/imam taufiq
Kakek Darmo (90) berdialog dengan Gubernur Jatim di lokasi terpaan gempa di Dusun Rembang, Desa Tepas, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar, Rabu (14/4/2021). 

SURYA.CO.ID, BLITAR - Gempa berdurasi hanya 2 menit yang menggoyang wilayah Jatim, termasuk Kabupaten Blitar, Sabtu (19/4/2021) siang, memang memberikan trauma yang membekas.

Tidak salah kalau banyak warga yang takut kembali ke rumahnya, seperti dialami Mbah Darmo (90), yang tetap menolak pulang meski dirayu Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, Rabu (14/4/2021).

Dialog antara gubernur dan Mbah Darmo di sela kunjungan ke Dusun Rembang, Desa Tepas, Kecamatan Kesamben itu memang menarik, dan menjadi gambaran bagaimana trauma yang masih dirasakan korban gempa.

Khofifah tertarik mendengar penuturan Mbah Darmo, yang rumahnya hancur akibat gempa. Yang tersisa adalah bangunan dapurnya. Kini bersama istrinya, Tariyem (80), dan cucunya, Fredi (30), Mbah Darmo menumpang di rumah keponakannya, Lasdi (48), yang hanya berjarak 3 rumah.

Melihat rumahnya didatangi gubernur, Mbah Darmo tergopoh-gopoh berdiri dan menghampirinya. Saat itu ia sedang duduk di sebuah mushala di seberang jalan rumahnya. "Gimana mbah, sehat? Kok nggak ditempati rumahnya (dapur rumahnya yang masih tersisa)?" tanya Khofifah kepada Mbah Darmo.

Ditanya Khofifah, Mbah Darmo dengan tegas menjawab ia dan keluarganya tak berani menempati. Alasannya, meski dapur rumahnya masih berdiri namun ia masih takut menempatinya karena khawatir menyusul ambruk. "Inggih bu. Saya takut. Untuk sementara kami menumpang di rumah keponakan," tuturnya lugu.

Mendengar pengakuan kakek tertua di desa itu, Khofifah merayu sambil membesarkan hatinya. Khofifah meminta, sebaiknya rumah itu ditempati karena dalam minggu ini akan. mendapat bantuan Rp 50 juta buat perbaikan. "Inggih mbah, minggu ini akan kami cairkan Rp 50 juta buat memperbaiki rumah panjenengan," paparnya.

Sambil merayu Mbah Darmo, Khofifah juga memerintahkan Bupati Blitar, Rini Syarifah untuk segera menuntaskan pendataan para korban gempa.

"Semua korban gempa yang di Kabupaten Blitar (312 rumah) akan kami beri bantuan. Buat rumah yang mengalami rusak paling parah seperti milik mbah Darmo, akan dapat bantuan Rp 50 juta," tegasnya.

Tidak terkecuali, rumah yang mengalami rusak parah juga tetap mendapatkan bantuan perbaikan. Sistemnya adalah swakelola, yakni dikerjakan oleh pihak desa masing-masing. Sementara khusus yang mendapat bantuan Rp 50 juta per rumah, akan dikerjakan oleh PUPRi setempat.

Untuk para korban gempa yang rumahnya rusak, Khofifah berusaha membesarkan hati mereka. Ia berharap warga tidak lagi trauma karena kabar kalau masih ada gempa susulan.

Seperti mbah Darmo yang mengaku saat kejadian, ia kaget karena siang itu sedang membersihkan kandang kambing di belakang rumahnya. Sambil memberi makan enam ekor kambing peliharannya, Mbah Darmo dikejutkan dengan guncangan hebat. Tak terkecuali istrinya, yang mengaku langsung lari ketika ada gempa.

"Istri saya sedang membersihkan rumput di halaman mushala karena mau puasa. Saya pun langsung lari menjauhi kandangg kambing," ungkap Mbah Darmo yang mengaku baru sekali merasakan gempa sekuat itu.

Selain mendapat bantuan dari Pemprov Jatim, para korban gempa yang kebanyakan berada di empat kecamatan juga akan mendapat bantuan dari Pemkab Blitar. Menurut Mak Rini - panggilan Rini syarifah - pemkab menyiapkan dana bantuan perbaikan rumah terdampak gempa sebesar Rp 10 miliar.

"Dana bantuan itu akan dicairkan melalui BPBD. Jadi kami harap para korban gempa bersabar, karena kami masih melakukan pendataan," ujar Mak Rini. ****

Penulis: Imam Taufiq
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved