Breaking News:

Hikmah Ramadan 2021

Prof Akhmad Muzakki Sekretaris Umum MUI Jatim: Puasa, Nikmat? Itu di Indonesia

Allah memang selalu memberi pelajaran dengan cara-Nya sendiri. Allah memang selalu bersama usaha hambanya. Setiap kejadian adalah pelajaran.

Istimewa/Dokumen Pribadi
Sekretaris Umum MUI Provinsi Jawa Timur, Prof Akhmad Muzakki. 

Bagaimana dengan kegiatan qiyamul lail? Saat Ramadan berada di puncak musim panas, dampaknya juga pada waktu biologis kita untuk menunaikan qiyamul lail. Bayangkan, adzan isya’ sekitar jam 22:00. Lalu rangkaian shalat tarawih bisa baru usai mendekati jam 23:00. Apalagi kalua akhir pekan. Biasanya mahasiswa seperti saya selalu diundang pada acara buka bersama plus tarawih berjamaah oleh komunitas Indonesia di Canberra.

Mereka mulai dari diplomat yang sedang bertugas di Kedutaan Besar Indonesia di Canberra hingga perkumpulan keluarga mahasiswa sendiri.

Kalau tarawih berjamaah bersama komunitas Indonesia saja berakhir jelang jam 23:00, maka perjalanan sampai rumah sekitar setengah jam berikutnya. Kalau sudah begitu, dilema lalu muncul. Jam kala itu sudah di atas 23:00. Mau sahur sebelum tidur, perut masih terasa kenyang habis ritual makan bersama. Akhirnya diniatilah untuk sahur jam 03:00 dinihari seperti pada hari-hari kerja biasanya.

Lalu apa yang terjadi? Karena tidurnya larut, sering pula terbangunnya telat. Ya, saat waktu subuh sudah datang. Akhirnya, sahur pun terlewat. Saat tidak makan-minum karena sahur terlewat, siang pun makin nggeleleh (lapar-haus yang sangat). Padahal, jam siang untuk puasa di puncak musim panas sangat panjang sekali.

Terbayanglah, begitu “menderitanya” kala itu. Dan itu terjadi pada saya sering sekali. Terutama saat akhir minggu. Saat banyak undangan buka bersama dan tarawih bersama. Karena balik ke rumahnya larut, sementara perut pun masih terasa kenyang, sahurpun diniati tetap dilakukan pada jam seperi biasanya. Namun, mata yang terkantuk berat, kegiatan sahur sering terlewat. Begitulah yang terjadi.

Sudah begitu, semua suasana religius harus diciptakan sendiri. Tidak seperti di Indonesia yang hampir semua ruang publik menjadi religius selama Ramadan.

Di negeri-negeri di mana Muslim sangat minoritas dan ruang publik tidak terkondisikan seperti di Indonesia, semua harus dikondisikan sendiri.

Kita sendiri yang membuat ruang-ruang hidup kita religius atau tidak. Adzan? Kita sendiri mengondisikan lewat adzan digital di komputer atau gadget. Tilawah al-Qur’an? Sama juga. Semua kita sendiri yang mengondisikan.

Duh nikmatnya puasa di Indonesia! Waktu puasanya konstan. Qiyamul lail bisa leluasa. Ruang publik sangat kondusif karena semua menjadikannya religius. Lalu kita pun bisa hanyut dalam religiusitas ruang publik itu. Pikiran, perasaan, dan praktik perilaku kita terkondisikan dengan baik oleh religiusitas ruang publik selama Ramadan. Duh nikmatnya Ramadan di Indonesia!

Akupun teringat dengan ayat Fabi ayya ala’i rabbika tukadzdziban. Terhadap nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang engkau akan dustakan.

Halaman
123
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved