Breaking News:

Hikmah Ramadan 2021

Prof Akhmad Muzakki Sekretaris Umum MUI Jatim: Puasa, Nikmat? Itu di Indonesia

Allah memang selalu memberi pelajaran dengan cara-Nya sendiri. Allah memang selalu bersama usaha hambanya. Setiap kejadian adalah pelajaran.

Istimewa/Dokumen Pribadi
Sekretaris Umum MUI Provinsi Jawa Timur, Prof Akhmad Muzakki. 

Oleh: Prof Akhmad Muzakki
Sekretaris Umum MUI Provinsi Jawa Timur,
Guru Besar Sosiologi Pendidikan UIN Sunan Ampel Surabaya

SURYA.CO.ID - Pernahkah Anda berpuasa Ramadan selama 17 jam sebulan penuh? Itu pasti tak akan pernah Anda alami di sini. Ya di negeri ini. Indonesia.

Jam biologis Anda sudah dikondisikan oleh alam: subuh jam 04:15 dan maghrib jam 17:30. Pergeseran bisa terjadi. Tapi itu persis seperti balon tiup. Dipencet bagian kiri, melembung bagian kanan. Dipencet kanan, kiri melembung.

Begitu pula soal jam waktu subuh dan maghrib. Subuh bergeser lebih siang dalam hitungan menit, dan waktu adzan maghrib juga bertambah lebih larut dalam hitungan menit pula.

Pengalaman ekstrem pernah saya lalui. Subuh jam 03:30. Berarti sahur pun amannya jam 03:00. Dan itu berarti pula harus bangun sebelum itu untuk persiapan. Apakah maghrib lebih awal seperti pergeseran waktu di Indonesia? Tidak. Sama sekali tidak. Meskipun subuh jam 03:30, maghribnya jatuh pada jam 20:30, dan bahkan bisa bergerak lebih larut mendekati jam 21:00.

Itu pengalaman yang saya alami tahun 2002 saat saya mengawali kuliah S2 di The Australian National University (ANU) Canberra, Australia. Peristiwa puasa Ramadan panjang itu terjadi saat Ramadan persis berada di puncak musim panas. Bulan Desember. Saat musim panas, siangnya panjang, dan malamnya singkat. Beda dengan saat musim dingin. Malamnya lebih panjang dari siangnya.

Kala itu, Ramadan berada di puncak musim panas. Sudah waktu siangnya panjang, panasnya cuaca pun juga luar biasa kering. Potensi dehidrasi tinggi. Tubuh tidak mendapatkan asupan cairan sepanjang siang. Dan cuaca panas kering sekali. Aktivitas di luar pun harus dikurangi atau disesesuaikan sedemikian rupa.

Itu harus dilakukan sebagai cara untuk bertahan puasa di bulan Ramadan saat puncak musim panas. Itu tahun-tahun awal saya kuliah di Australia. Tahun pertama sudah disuguhi dengan pengalaman berpuasa dengan waktu puasa yang sangat panjang sekali.

Adaptasi harus dilakukan secara ekstrem. Karena, pengalaman itu tak pernah sekalipun saya alami selama hidup di Indonesia sebelumnya. Tentu saja juga saat ini dan sampai kapanpun. Dari dulu sewaktu kecil sampai sekarang saat dewasa tak pernah berubah. Otak kita pun bisa membayangkan panjang-pendeknya waktu puasa di sepanjang siang Ramadan.

Tidak berubah. Dan tidak akan mengalami perubahan ekstrem.
Kondisi geografis Indonesia yang berada di garis katulistiwa (khathth al-istiwa’) membuat negeri ini tak pernah mengalami perubahan waktu yang ekstrem. Tak ada empat musim seperti di Australia atau negara-negara Eropa dan Amerika.

Semua konstan. Tidak ada yang ekstrem. Puasa pun sudah bisa diprediksi tetap waktu subuh dan maghribnya. Panjang waktunya sama setiap tahun.

Halaman
123
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved