Breaking News:

Berita Banyuwangi

Smart Santri Jadi Cara Baru Mengaji Kitab Kuning, Kiai Yakin Banyuwangi Hanya Satu-Satunya

Di gelaran ketiga kalinya, Smart Santri digelar di Pondok Pesantren Darussalam, Desa Kajarharjo, Kecamatan Kalibaru, Rabu malam (7/4/2021).

surya/haorrahman
Pengajian kitab kuning yang dikemas dalam kegiatan Festival Smart Santri di Pondok Pesantren Darussalam, Desa Kajarharjo, Kecamatan Kalibaru Banyuwangi, Rabu malam (7/4/2021) malam. 

SURYA.CO.ID, BANYUWANGI - Usai dilantik menjadi Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani rutin menggelar pengajian kitab kuning yang dikemas dalam kegiatan Festival Smart Santri. Kemasan festival untuk membahas kitab-kitab kuning itu mendapat apresiasi dari para kiai.

Smart Santri merupakan rangkaian pengajian kitab kuning yang digelar secara hybrid dan diikuti para santri, Aparatur Sipil Negara (ASN) dan warga Banyuwangi. Festival itu bisa diikuti baik secara daring melalui aplikasi Zoom dan channel, maupun secara luring dengan pembatasan peserta dan penerapan protokol kesehatan (prokes).

“Inovasi ini mungkin satu-satunya. Pemkab Banyuwangi menggelar pengajian online bagi santri dan masyarakat, yang juga diikuti juga para ASN. Jadi tidak ada alasan lagi ASN dan kita semua tidak sempat mengaji karena sibuk," kata pengasuh pondok pesantren Darussalam KH. Muhammad Faidzin, KH. Faizin, saat menjadi tuan rumah Smart Santri.

"Sekarang sudah dibuatkan pengajian online oleh pemerintah sehingga bisa disimak dari mana saja. Insya Allah pahalanya sama,” tambahnya.

Di gelaran ketiga kalinya, Smart Santri digelar di Pondok Pesantren Darussalam, Desa Kajarharjo, Kecamatan Kalibaru, Rabu malam (7/4/2021).

Smart Santri digelar secara reguler, dua kali dalam sebulan pada Rabu malam. Berpindah dari satu pesantren ke pesantren yang lain dengan melibatkan kiai-kiai di Banyuwangi untuk mengisi tauziah.

KH Faidzin sangat mengapresiasi kegiatan ini. Menurutnya, Smart santri merupakan bentuk tanggung jawab seorang pemimpin untuk memperkuat keruhanian warganya.

Apalagi menurut KH Faizin, kitab kuning merupakan tradisi masyarakat Indonesia. Kitab Kuning identik dengan pola pendidikan agama Islam di pondok pesantren yang merupakan kitab klasik yang ditulis beberapa abad yang lalu.

"Kitab kuning merupakan tradisi pondok pesantren. Banyak ilmu, sejarah, dan hal positif lainnya yang kita dapat dari membaca kitab kuning," kata KH Faizin.

Gelaran Smart Santri kali ini juga diisi tausyiah dari Kiai Iskandar Zulkarnain yang mengangkat tema Instrospeksi Diri dan Hikmah Ramadhan merujuk pada kitab 'Hikmatu Tasyri' wa Falsafatuhu' karya Syekh Ali Ahmad Al-Jurjawi.

Terkait pentingnya instrospeksi, Kiai Iskandar berpedoman pada Abu Bakar Al-Baqillani. Seorang imam yang mempunyai andil besar dalam menyebarluaskan paham Asy’ariyyah atau Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Beliau juga seorang ulama yang sangat religius dan selalu menjaga diri dari perbuatan tercela.

“Beliau mengajarkan kita untuk selalu sibuk mengintrospeksi diri sehingga tidak punya waktu untuk mengoreksi kekurangan orang lain. Semoga kita semua yang mengikuti pengajian ini bisa menjadi pribadi yang senantiasa berinstropeksi dan menjauhi perbuatan tercela,” ujar Kiai Iskandar.

Sementara Bupati Ipuk berharap agar ASN, santri, dan warga Banyuwangi menyempatkan diri untuk mengaji kitab kuning. Menurutnya, minimal akan mendapatkan siraman rohani sebagaimana para santri.

Menurut Ipuk banyak hal yang didapat dari mengaji kitab kuning, apalagi menjelang Ramadhan seperti saat ini.

“Ini ngaji bareng kita sebelum Ramadhan. Semoga dengan mengikuti kegiatan ini, kita semua bisa mendapatkan bekal spiritual yang cukup sehingga bisa melaksanakan ibadah puasa dengan khusyu’, ikhlas, dan nikmat hingga akhir,” kata Ipuk. ***

Penulis: Haorrahman
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved