Breaking News:

Berita Tulungagung

Kementan Terapkan Pemupukan Ideal, Alokasi Pupuk Bersubsidi di Tulungagung Berkurang

sistem di e-RDKK Kementan langsung melakukan penyesuaian kebutuhan pupuk. 2020 lalu setiap hektare mendapat alokasi 300 KG pupuk Urea

surya/david yohanes
Petani mengangkut pupuk bersubsidi. Jatah pupuk bersubsidi untuk Tulungagung berkurang tahun 2021 ini. 

SURYA.CO.ID, TULUNGAGUNG - Alokasi pupuk bersubsidi untuk para petani tahun 2021 mengalami penurunan drastis. Penurunan ini diduga dipicu sistem rencana definitif kebutuhan kelompok elektronik (e-RDKK) Kementerian Pertanian, yang menerapkan dosis ideal untuk pemupukan.

Diungkapkan Kasi Pupuk Pestisida dan Alat Mesin Pertanian Kabupaten Tulungagung, Tri Widyo Agus Basuki alias Oki, kondisi tanah pertanian di Tulungagung memang kehabisan unsur hara. Akibatnya para petani mengandalkan pupuk kimia untuk memberikan nutrisi ke tanaman.

Semakin lama unsur hara semakin habis, dosis pemberian pupuk kimia juga semakin bertambah. “Begitu pemerintah berpatokan pada dosis ideal pemupukan, akhirnya terjadi pengurangan yang signifikan,” terang Oki.

Oki mengungkapkan, sistem di e-RDKK Kementan langsung melakukan penyesuaian kebutuhan pupuk. Ia mencontohkan tahun 2020 lalu setiap hektare mendapat alokasi 300 KG pupuk Urea.

Untuk tiga kali tanam dalam setahun, maka setiap hektaremendapat alokasi 900 KG UIrea. “Namun sekarang begitu dimasukkan dalam e-RDKK, langsung dipotong oleh sistem. Tidak bisa dapat sepenuhnya seperti tahun lalu,” kata Oki.

Setelah keluar alokasi berdasarkan sistem, alokasi yang diberikan lewat penetapan SK juga masih mengalami pengurangan. Penetapan alokasi berdasar SK hanya sekitar 38-40 persen dari alokasi yang sudah dipotong sistem.

Kondisi ini mulai dikeluhkan oleh para kelompok petani di Tulungagung. “Banyak kelompok tani yang mulai khawatir jika alokasi pupuk subsidi dikurangi sesuai SK penetapan. Karena tidak ada solusi bagi petani, selain membeli pupuk non-subsidi,” ungkap Oki.

Sesuai data tahun 2020, ada 88.533 petani di Tulungagung dengan luas tanam 145.499 hektare. Sedangkan alokasi pupuk bersubsidi jenis Urea sebanyak 39.742 ton, ZA 13.819 ton, SP36 9.318 ton dan NPK 35.203 ton.

Sedangkan pada 2021, jumlah petani membengkak menjadi 113.682 orang dengan luas tanam 140.932,94 hektare. Sementara alokasi pupuk bersubsidi jenis Urea menurun yaitu 21.025 ton, ZA 13.769 ton, SP36 282 ton dan NPK 37.379 ton.

Dari alokasi berdasar sistem ini, terdapat penurunan pada jenis Urea dan SP36 namun ada penambahan pada jenis NPK. Dan alokasi itu masih terpotong banyak, saat dituangkan dalam SK penetapan. “Untuk Urea, berdasar SK masih mencapai 97 persen. Tetapi yang lain hanya 38-40 persen,” tutur Oki.

Terkait kekhawatiran para petani, Oki yakin akan ada evaluasi pelaksanaan tanam tahap pertama. Jika memang ada kekurangan pupuk untuk petani, nantinya akan ditambah oleh pemerintah.

“Ini sekedar keyakinan saya, jika memang dianggap kurang pasti akan ditambah. Tidak mungkin pemerintah membiarkan petani kekurangan pupuk,” pungkas Oki. ***

Penulis: David Yohanes
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved