Breaking News:

Berita Kediri

Nilai Korupsi Proyek Jembatan Brawijaya Kediri Rp 7 Miliar, Berkas Dakwaannya Setebal 40 Cm

Nur Ngali saat dikonfirmasi awak media menjelaskan, saat ini kejaksaan tinggal menunggu penetapan jadwal sidang

surya/didik mashudi
Jembatan Brawijaya Kota Kediri telah selesai pembangunannya, namun menyisakan kasus dugaan korupsi pejabat dan rekanan yang membangunnya, Senin (5/4/2021). 

SURYA.CO.ID, KEDIRI - Nilai uang negara yang terkorupsi selama pelaksanaan pembangunan Jembatan Brawijaya di Kota Kediri, hampir Rp 7 miliar. Dan untuk dua terdakwa dugaan korupsi yang bakal disidangkan, berkas perkaranya juga tebal, yaitu sampai 40 centimeter.

Berkas dakwaan setebal itu juga telah dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor Surabaya. Sedangkan kedua tersangka masing-masing mantan Wali Kota Kediri, Syamsul Ashar dan A Yong, kontraktor pelaksana pembangunan Jembatan Brawijaya, segera disidang.

Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Kota Kediri, Nur Ngali saat dikonfirmasi awak media menjelaskan, saat ini kejaksaan tinggal menunggu penetapan jadwal sidang. "Kapan waktunya kita belum memperoleh waktunya," ungkap Nur Ngali di ruang kerjanya, Senin (5/4/2021).

Dijelaskan Nur Ngali, berkas perkara dan barang bukti sebelumnya telah dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor Surabaya pada Kamis (1/4/2021). Pelimpahan berkas juga disertai dengan dakwaan dan barang bukti. "Barang bukti perkara terdahulu juga melekat untuk barang bukti perkara ini," jelasnya.

Sementara untuk proses persidangan apakah dilakukan secara langsung di persidangan atau melalui daring, masih menunggu penetapan dari majelis hakim Pengadilan Tipikor. "Apakah terdakwa dihadirkan atau cukup di tempat tinggal atau di kejaksaan, nanti ditentukan di penetapan," jelasnya.

Kedua terdakwa sebelumnya telah dilimpahkan oleh penyidik Tipikor Polda Jatim ke Kejaksaan Negeri Kota Kediri. Terdakwa tidak melalui penahanan di rumah tahanan (rutan) karena memiliki rekam medis riwayat sakit dan sering keluar masuk rumah sakit. "Jadi dikenai tahanan kota. Yang bersangkutan wajib lapor seminggu sekali," tambahnya.

Sejauh ini Nur Ngali menyampaikan belum ada tersangka baru dalam kasus dugaan korupsi pembangunan Jembatan Brawijaya, Kota Kediri. Nur Ngali mengungkapkan, berkas dakwaan kasus dugaan korupsi pembangunan Jembatan Brawijaya tebalnya mencapai 40 cm.

Selain itu persidangan akan menghadirkan 45 orang saksi. "Berkas 40 cm itu tebal banget," ungkapnya.

Pembangunan Jembatan Brawijaya itu merupakan proyek multiyears selama 2009 sampai 2014 atau selama Syamsul Ashar menjabat Wali Kota Kediri.

Nur Ngali juga menyampaikan, pihaknya telah melakukan penyitaan berupa sertifikat tanah milik mantan wali kota di Kelurahan Pojok Kota Kediri. Namun sertifikat diatasnamakan keluarganya.

Penyitaan aset tanah seluas sekitar 8.000 meter persegi itu dilakukan untuk mengganti kerugian negara. "Meski diatasnamakan keluarga, tetapi telah diakui miliknya Pak Samsul," jelasnya.

Kasus dugaan korupsi Jembatan Brawijaya telah menyeret sejumlah pejabat di lingkungan Pemkot Kediri serta pihak rekanan pembangunan Jembatan Brawijaya. Sementara terkait dengan meninggalnya sejumlah saksi dan tersangka, saksi yang lainnya dapat memberikan keterangan.

"Walaupun tersangka sudah meninggal, keterangan dapat dibacakan untuk menyakinkan hakim," jelasnya. ****

Penulis: Didik Mashudi
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved