Breaking News:

Berita Sidoarjo

Cerita Ibu Tiri Jelaskan Detik-detik Kematian Agitha Cahyani Putri, Sempat Minta Gendong dan Haus

Inilah cerita Linda Halim sebagai ibu tiri menjelaskan detik-detik sebelum kematian Agitha Cahyani Putri. Dia sempat minta gendong dan merasa kehausan

SURYA.co.id/M Taufik
Erlita Dewi menangis di atas makam putri sulungnya Agita Cahyani Putri usai pembongkaran makam di kompleks pemakaman Praloyo Sidoarjo, Jumat (2/4/2021) siang. Erlita ingin kematian anaknya dibongkar karena ada indikasi kekerasan. Benarkah? 

Tapi tetap kami minta karena saya yakin anak saya masih ada," ujarnya.

Setelah hampir tiga jam menunggu tindakan medis, upaya Agung dan Linda tak bisa melampaui takdir.

Agung yang kemudian pasrah, mencoba menghubungi Erlita, mantan istri dan ibu kandung AP mengabarkan kematian anaknya itu.

"Karena atas permintaan ibu kandungnya, AP agar disemayamkan esok harinya dan diminta formalin.

Namun saya menolak awalnya.

Namun untuk menghindari kesalahpahaman akhirnya saya ikuti, tapi tetap menolak kalau diformalin.

Kemudian alternatifnya ya jenazah disimpan dalam lemari pendingin di kamar jenazah," sambung Agung.

Agung menjelaskan, saat memandikan jenazah AP, tidak ada sedikitpun darah yang keluar dari bagian tubuh anaknya itu.

"Saya sendiri ikut memandikan.

Termasuk ada petugas rumah sakit yang ikut memandikan.

Ada saksinya.

Itu tidak ada keluar darah," imbuhnya.

Baru kemudian tanggal 28 Maret 2020, kondisi jenazah yang ditutup plastik yang disebut sebagai protokol Covid-19 itu ditemui oleh Erlita.

"Kami juga tidak tahu.

Darah itu baru keluar pada saat ibu kandungnya mencium jenazah AP, atau memegangnya," ujarnya.

Agung dan Linda merasa pemberitaan di luar tersebut begitu menyudutkan dan hanyalah sebuah penggalan dari konstruksi cerita yang sebenarnya.

"Kami juga merasa perlu memanggapi dan meluruskan kabar diluaran sana yang hanya sepenggal-sepenggal.

Tidak benar kami tidak memperlakukan anak kami dengan tidak baik.

Ayah mana yang tega melihat anak kandungnya menderita," lanjutnya

Saat diminta untuk autopsi, pihak Agung dan Linda awalnya sempat ragu karena tidak tega melihat jenazah anaknya kembali dibongkar, namun karena adanya kepentingan penyidikan, akhirnya Agung bersikap kooperatif dan menandatangani pembongkaran makam buah hatinya itu.

"Kami akan kooperatif.

Apapun yang dibutuhkan kepolisian untuk mengetahui penyebab kematian anak saya, saya akan kooperatif.

Awalnya saya menolak karena tidak tega.

Ayah mana yang tega melihat jenazah anaknya dibongkar.

Tapi untuk kepentingan penyidikan sekali lagi kami akan kooperatif," tandasnya.

Tagis ibunda pecah di pusara makam

Sebelumnya, petugas Polresta Sidoarjo membongkar makam Agitha Cahyani Putri (14) di komplek pemakaman Praloyo, Sidoarjo, Jumat (2/4/2021) siang.

Pembongkaran dilakukan tertutup oleh petugas kepolisian bersama petugas forensik RSUD Sidoarjo.

Di atas makam dipasang tenda, kemudian dikeliling penutup.

Setelah makam dibongkar, jenazah putri suling Erlita Dewi itu diangkat dan dioutupsi di lokasi.

Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, jenazah remaja yang selama ini tinggal di Perumahan Taman Tiara Mediteran Sidoarjo itu kembali dimakamkan oleh petugas.

Sekira pukul 13.30 WIB, proses pembongkaran makam dan outopsi itu selesai dilaksanakan.

Erlita Dewi juga terlihat di lokasi. Bahkan setelah semua petugas meninggalkan area makam, ibu dari almarhum Aghita masih di sana bersama beberapa keluarganya.

Erlita terlihat sangat berduka. Beberapa puluh menit dia menangis di atas makam sang anak.

Bersama keluarga, Erlita juga sempat menaburkan bunga di makam Aghita, sebelum mereka meninggalkan area pemakaman.

“Harapan saya semua bisa terungkap. Jika anak saya meninggal karena sakit, bisa terungkap apa penyakitnya.

Dan jika ada yang janggal, polisi bisa mengungkap kejanggalan itu,” ujar Erlita saat ditemui sebelum meninggalkan makam.

Perempuan yang tinggal di Kendari, Sulawesi Tenggara ini bercerita bahwa dia sudah sekira tiga tahun tidak bertemu dengan putrinya.

Dia bercerai dengan suaminya, dan empat anaknya diasuh oleh sang suami yang selama ini tinggal di Sidoarjo.

Hari Sabtu kemarin, dia mendapat kabar bahwa putri sulungnya meninggal dunia.

Karena tidak dapat tiket pesat hari itu, Erlita baru bisa terbang ke Sidoarjo hari Minggu.

Dia memang berpesan agar jenazah tidak dimakamkan sebelum dirinya tiba di Sidoarjo.

“Minggu siang baru dimakamkan.

Dan sebelum dimakamkan itu, saya sempat membuka kain kafan anak saya.

Saya melihat ada beberapa kejanggalan di sana,” kisahnya.

Dia melihat ada darah di hidung jenazah anaknya.

Kemudian juga ada memar di dekat hidung sebelah kiri, serta bekas memar di pipi kiri.

Selain itu, dalam gambar yang sempat diunggahnya di media sosial, ada darah di belakang kepala putrinya.

“Kemudian hari Senin kemarin saya melapor ke Polresta Sidoarjo.

Saya sudah iklas, tapi saya ingin semuanya terungkap.

Sekali lagi, saya tidak tahu apakah karena sakit atau karena apa.

Saya cuma ingin mendapat kebenaran.

Apa penyebab kematian anak saya,” lanjutnya sesenggukan.

Ya, berdasar laporan dari Erlita itulah polisi bergerak melakukan penyelidikan.

Termasuk dasar dari pembongkaran makam ini adalah permintaan dari ibu almarhum.

“Petugas sudah memintai keterangan beberapa saksi dan mengumpulkan beberapa alat bukti terkait laporan ini.

Termasuk pembongkaran makam dan pemeriksaan terhadap jenazah juga sudah dilakukan petugas.

Hasilnya, kita tunggu tim forensik yang melakukan pemeriksaan,” kata Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol Sumardji.

Menurutnya, penyelidikan terus dilakukan oleh petugas Sat Reskrim Polresta Sidoarjo.

Diharapkan, dalam waktu dekat sudah bisa disimpulkan.

Apa penyebab kematian korban, dan bagaimana kelanjutan atas laporan perkara ini.

Baca berita lainnya terkait kematian Agitha Cahyani Putri

Penulis: Firman Rachmanudin
Editor: Iksan Fauzi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved