Breaking News:

Berita Blitar

Luapkan Jeritan Hati, Puluhan Seniman Blitar Ngamen Bareng agar Bisa Berkreasi Lagi

Dalam aksinya mereka tak sekadar melakukan aksi keprihatinan, namun juga membawa peralatan berbagai musik.

surya/imam taufiq
Para pekerja seni menggelar aksi ngamen bareng di depan kantor Pemkab Blitar karena kangen bermain musik lagi di masa pandemi, Kamis (1/4/2021). 

SURYA.CO.ID, BLITAR - Sudah setahun menganggur akibat terkena dampak Covid-19, para seniman di Kabupaten Blitar melakukan aksi keprihatinan. Bentuknya, mereka menggelar aksi ngamen bareng, di trotoar jalan depan kantor Pemkab Blitar, Kamis (01/4).

Aksi Itu diikuti sekitar 25 orang seniman, yang berasal dari berbagai latar belakang seni. Di antaranya, ada perwakilan dari kelompok kesenian tradisional seperti kuda lumping (jaranan), campusari, pemain elekton, pemain gamelan cungkir (perkusi), dan lainnya.

Dalam aksinya mereka tak sekadar melakukan aksi keprihatinan, namun juga membawa peralatan berbagai musik. Tak pelak, aksi mereka tidak hanya jadi perhatian para PNS, namun juga para pengguna jalan raya.

Sebab mereka menggelar live musik, dengan memainkan lagu-lagu campursari dan kuda lumping. Dan aksi bareng itu belakangan mendatangkan rejeki karena banyak pengguna jalan yang memberi uang.

Rencananya, hasil mengamen itu akan disumbangkan untuk sesama seniman yang paling terkena dampak ekonomi dari pandemi.

"Setelah aksi ini, mungkin minggu depan kami akan mendatangi gedung dewan, agar bisa hearing bersama terkait keluhan kami," kata Dian Priyo Gunanto, ketua Dewan Kesenian Kabupaten Blitar.

Menurut Dian, meski show-nya siang itu tak ada yang membayar namun para seniman mengaku sedikit terhibur. Alasannya karena sudah setahun tidak berunjuk kemampuan sehingga merasa kangen.

Akhirnya, sepanjang jalan depan kantor Pemkab Blitar itu mendadak berubah jadi ajang live musik. Mereka show di sepanjang trotoar jalan, mulai musik dangdut, campur sari, dll.

Para pengguna jalan dimanjakan karena banyak pilihan musik, yang bisa dinikmati.
"Aksi ini kami lakukan karena banyak teman kami sesama seniman yang mengeluh. Itu karena terlalu lama menganggur, sehingga butuh biaya hidup. Bahkan ada yang sampai menjual sepeda motornya buat makan," paparnya.

Malah, lanjut Dian, ada teman seniman yang sampai banting setir dengan berjualan kopi di tepi jalan. Namun karena mungkin bukan jiwa pedagang akhirnya bangkrut.

Penyebabnya, bukan tak laku namun kebanyakan yang ngopi itu teman-ttemannya sendiri sehingga tidak tega untuk disuruh bayar. "Dari cerita-cerita itu kami tergerak, bagaimana pemerintah membolehkan kami berkreasi kembali," pungkasnya.****

Penulis: Imam Taufiq
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved