Breaking News:

Berita Pasuruan

KEPPARAT Gelar Aksi di Pasuruan, Sebut Kekerasan Terhadap Pers Adalah Mencederai Demokrasi

Komite Aksi Perlawanan Pers Atas Arogansi Aparat (KEPPARAT) menggelar aksi damai di Alun-alun Pasuruan, Selasa (30/3/2021).

SURYA.CO.ID/Galih Lintartika
Pers dan NGO yang tergabung dalam Komite Aksi Perlawanan Pers Atas Arogansi Aparat (KEPPARAT) melakukan aksi damai dan solidaritas di Alun-alun Pasuruan terkait kasus kekerasan yang dialami Jurnalis Majalah Tempo, Selasa (30/3/2021). 

SURYA.CO.ID, PASURUAN - Komite Aksi Perlawanan Pers Atas Arogansi Aparat (KEPPARAT) menggelar aksi damai di Alun-alun Pasuruan, Selasa (30/3/2021) pagi.

KEPPARAT adalah gabungan dari teman-teman jurnalis dan sejumlah Non Government Organization (NGO) se-Pasuruan Raya.

Aksi KEPPARAT ini adalah aksi solidaritas atas peristiwa yang dialami jurnalis Majalah Tempo, Nurhadi saat melakukan tugas jurnalistiknya.

Sekadar diketahui, beberapa waktu lalu, Nurhadi mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan mulai dari pemukulan, hingga penyekapan.

Arie Yoenianto, salah satu wartawan senior mengaku prihatin karena masih ada aparat penjahat yang melakukan perbuatan anarkis kepada wartawan.

Menurut Arie, sapaan akrabnya, pers masih belum merdeka. Ia mengajak kawan-kawan pers untuk memperjuangkan kemerdekaan pers.

"Ini menandakan jika pers belum merdeka. Mari kita lawan dan kita kawal betul kasus ini. Jangan sampai, kasus kekerasan pers berhenti di tengah jalan," urainya.

Terpisah, Direktur Pusat Studi Advokasi dan Kebijakan (PUSAKA), Lujeng Sudarto menyebut, kasus kekerasan pers ini adalah kekerasan terhadap demokrasi.

"Ketika negara bersepakat pers adalah pilar demokrasi, maka kekerasan terhadap pers adalah kekerasan yang mencederai demokrasi," tambah Lujeng, sapaannya.

Lujeng menjelaskan, negara yang demokrasi adalah negara yang tidak akan memberikan ruang terhadap aparatnya untuk bersikap anarkis terhadap pilar demokrasi.

"Kasus kekerasan ini sudah seringkali terjadi berulang kali. Jangan sampai, kejadian kekerasan ini menjadi sebuah tradisi ketika ada sengketa dengan rakyat," jelas dia.

Lujeng jika meminta ada evaluasi keberpihakan aparat di negeri ini.
Dikatakan dia, jangan sampai aparat ini tidak loyal terhadap kepentingan rakyat.

"Mereka abdi negara. Mereka harus berpihak terhadap rakyat bukan para pemilik modal atau pengusaha. Ini namanya aparat memiliki loyalitas ganda," urainya.

Ayi Suhaya, salah satu perwakilan NGO lainnya mengaku merasa sakit ketika teman-teman pers ada yang menjadi korban kekerasan.

"Kami satu jiwa, pers dan NGO. ketika mereka sakit, kami juga sakit. Ini harus kita lawan. Kekerasan terhadap Nurhadi adalah upaya-upaya membungkam pers sebagai pilar demokrasi," pungkas dia.

Penulis: Galih Lintartika
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved