Breaking News:

Wawancara Eksklusif

Mas Dhito, Anak Menteri yang Jadi Bupati, Ini Mimpinya untuk Kabupaten Kediri (1)

Mas Dhito, anak menteri yang jadi bupati. Berikut ini mimpinya untuk Kabupaten Kediri di Jawa Timur (Jatim).

SURYA.CO.ID/AHMAD ZAIMUL HAQ
Direktur Pemberitaan Tribun Network yang juga Pemimpin Redaksi Harian Surya, Febby Mahendra Putra (kiri) dan Hanindhito Himawan Pramana atau Mas Dhito di Pendopo Kabupaten Kediri, Senin (22/3/2021). 
SURYA.CO.ID, KEDIRI - Hanindhito Himawan Pramana terpilih sebagai Bupati Kabupaten Kediri. Ia termasuk bupati milenial di Jawa Timur (Jatim).
Saat dilantik pada 26 Februari 2021, Hanindhito  diketahui masih berusia 28 tahun.
Hanindhito langsung melakukan gebrakan sejak awal bekerja.
Seperti sidak ke jalan rusak yang banyak dikeluhkan warga, dan mendatangi fasilitas layanan publik milik Pemkab Kediri. 
Selangkapnya simak wawancara eksklusif Direktur Pemberitaan Tribun Network yang juga Pemimpin Redaksi Harian Surya, Febby Mahendra Putra, dengan Hanindhito Himawan Pramana atau akrab disapa Mas Dhito di Pendopo Kabupaten Kediri, Jawa Timur (Jatim), Senin (22/3/2021).  
Setelah kurang lebih sebulan menjadi Bupati Kediri, yang luas wilayahnya lumayan besar, gimana perasaan Anda?
Yang pertama dari saat hari pertama kerja dan sampai sekarang, saya masih belajar adalah memikirkan satu masalah dengan masalah lain diselesaikan dengan cepat yang membutuhkan waktu tak kurang lebih dari 1 jam. 
Apakah ada perasaan asing dengan lingkungan baru saat ini?
Sebenarnya kalau asing tidak, excited jelas. Karena disaat kebijakan kita bisa dirasakan oleh masyarakat banyak ada rasa kepuasan batin tersendiri yang tak bisa diungkapkan.
Jadi saya setiap Jumat mempunyai program Ngopi (Ngobrol Persoalan dan Solusi).
Masyarakat bertanya saya memberikan solusi, kalau hari Senin, Selasa dan Rabu datang ke desa-desa untuk diskusi dengan kepala desa.
Nanti dari situ saya bisa memberikan solusi. Dari situlah exited-nya bisa saya rasakan.
Ketika Anda terjun ke rakyat ada nggak momen yang unik ?
Ada. Contohnya minggu yang lalu ketika dalam acara Jumat Ngopi. Di mana ada salah satu masyarakat yang melaporkan bahwa aset milik pemkab adalah miliknya.
Lalu saya tanyakan mana pak bisa ditunjukkan. Kemudian beliau menunjukkan sertifikat yang tahunnya 1872.
Kalau logika berpikirnya, masa ada sertifikat tanah 1872, belum ada mesin ketik. 
Kebetulan Anda ini adalah putra dari Pramono Anung yang kebetulan menjadi Menseskab. Apa pesan yang disampaikan ayah dan ibu Anda ?
Jadi pesan bapak dan ibu yang saya ingat pada hari pencoblosan 9 Desember 2020, hanya satu, jaga nama baik keluarga. Apa yang sudah dibangun oleh keluarga jangan sampai saya mencederainya.
Karena saya ini punya kodrat atau garis tangan pasti ada segelintir orang yang mengatakan jika kamu berhasil pantas saja karena kamu anak Pramono Anung.
Tetapi kalau gagal kamu bodoh banget Dit, karena kamu anaknya Pramono Anung. Stigma itu tetap akan ada. Di Kediri ini mau kamu anak siapapun kalau tidak dengan hati, tidak akan bisa.
Menurut Anda apa sih yang membuat masyarakat saat ini lebih cenderung memilih anak muda meskipun yang tua juga ada?
Kalau saya melihatnya, apalagi saat ini sedang masa pandemi, kita dituntut di era digital. Saya punya pandangan bawa biasanya yang muda ini jauh lebih adaptif dengan perkembangan zaman.
Makanya kenapa secara rasionalitas masyarakat lebih banyak condong kepada pemimpin yang lebih muda, dibandingkan dengan yang lebih tua.
Mas Dhito ketika Anda memimpin kabupaten yang besar dan apalagi sebentar lagi akan mempunyai bandara, apa mimpi Anda ada meninggalkan legacy selama 3 tahun 8 bulan nanti?
Jadi ketika Kabupaten Kediri akan mempunyai bandara, dan PT Gudang Garam sebagai single investor. maka saya mempunyai mimpi menjadikan Kabupaten Kediri sebagai episentrum ekonomi Jawa Timur.
Contohnya Surabaya yang memiliki bandara dan Banyuwangi yang melakukan hal yang sama. Cuman kepala daerahnya harus memutuskan mana yang mau di genjot di awal.
Kalau infrastruktur jelas karena kalau jalannya tak mulus maka akan sia-sia.
Orang nggak akan ada yang mau datang karena jalan tak bagus dan pariwisata.
Jadi ada tiga program pertama infrastruktur, kedua pertanian dan ketiga pariwisata. 
Sekarang Kabupaten Kediri ini sebagai produsen cabai terbesar dengan hasil panen mencapai 180 juta ton.
Tahun ini kita turun di angka 90 juta ton, tetapi kenapa kok distribusi kita terlambat.  Karena jalan kita kurang bagus.
Akhirnya saya putuskan infrastruktur ini harus diperbaiki toh akan ada kaitannya dengan pertanian dan pariwisata. 
Anda pernah membayangkan nggak suatu saat nanti Anda akan frustrasi berhubungan dengan birokrat. Padahal Anda ingin segalanya bisa dilakukan dengan cepat?
Kalau frustasi jelas tidak. Mungkin lebih banyak beristighfar saja. Birokrasi ini adalah kadang suatu hal yang sudah lama terjadi bertahun-tahun.
Artinya kalau perlu mengubah sesuatu perlu proses di dalamnya. Bagaimana cara menunjukkan agar tugas itu cepat dilakukan dengan memberikan atensi dari pemimpinnya. 
Dalam rapat bersama SKPD pada hari pertama kerja saya meminta dinas untuk mengaktifkan media sosial, agar menjawab keluhan masyarakat.
Jadi dengan menyambungkan antara SKPD dengan masyarakat. Saya menghadapkan teman-teman kepala dinas dengan masyarakat.
Karena saya juga menghadapkan langsung dengan masyarakat untuk melayani.  (*)
Penulis: Farid Mukarrom
Editor: Tri Mulyono
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved