Breaking News:

Berita Bangkalan

Kejar Pengusaha Nakal Beromzet Rp 2 Miliar, DPMPTSP Bangkalan Malah Temukan Tambak Bodong 5 Hektare

menemukan tambak udang bodong alias tanpa perizinan usaha di Desa Mrandung, Kecamatan Klampis, Kamis (25/3/2021).

surya/ahmad faisol
Kepala Bidang Informasi dan Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal DPMPTSP Kabupaten Bangkalan, Jemmi Tria Sukmana (kiri) bertemu pemilik usaha tambak bodong udang vaname di Desa Mrandung, Kecamatan Klampis, Kamis (25/3/2021). 

SURYA.CO.ID, BANGKALAN – Pengawasan ketat dan tindakan tegas memang harus dilakukan pada praktik nakal para pengusaha yang menyiasati aturan investasi di Bangkalan.

Kalau lengah, maka pemda akan kecolongan seperti saat menemukan tambak udang bodong alias tanpa perizinan usaha di Desa Mrandung, Kecamatan Klampis, Kamis (25/3/2021).

Temuan tambak bodong seluas 5 hektare itu pun ditindaklanjuti Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) bersama Dinas Perikanan Bangkalan. Apalagi usaha tambak udang vaname tanpa berkas perizinan itu di luar dugaan petugas.

Pasalnya, pengawasan kali ini menargetkan tiga pelaku usaha; yakni dua bidang usaha tambak di Desa Mrandung, Kecamatan Klampis dan satu klinik medis di Desa/Kecamatan Sepulu.

Kepala Bidang Informasi dan Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal DPMPTSP Bangkalan, Jemmi Tria Sukmana mengungkapkan, keputusan mendatangi tiga target pengawasan perizinan berusaha sektor penanaman modal itu berdasarkan data yang dihimpun dari Online Single Submission (OSS).

“Tambak bodong itu tidak ada perizinan sama sekali, malahan telah beroperasi sejak 1994. Saat ini masih beroperasi, luasnya lebih besar dari dua usaha tambak yang kami targetkan. Tambak bodong itu di luar target kami,” ungkap Jemmi.

Kendati demikian Jemmi menegaskan, DPMPTSP tetap mengedepankan cara persuasif. Dengan harapan, pelaku usaha tambak ilegal itu segera mengurus kelengkapan dokumen-dokumen perizinan usahanya.

“Tetap menjadi atensi kami. Apalagi tambak bodong itu termasuk berskala besar, diperkirakan sekitar 5 hektare. Pemilik tambak bodong itu adalah kakak dari PT SSW Indonesia yang juga bergerak di tambak udang vaname,” tegasnya.

Jemmi menjelaskan, PT SSW Indonesia merupakan target pengawasan DPMPTSP dan Dinas Perikanan Bangkalan. Pasalnya data pada OSS menyebutkan, investasinya didaftarkan sebagai Izin Usaha Mikro dan Kecil (IUMK) pada 2020.

OSS merupakan sistem Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Online. Para pelaku usaha menilai sendiri kemampuan investasi dan skala usahanya dengan benar.

“Modal usaha PT SSW Indonesia disampaikan senilai Rp 250 juta. Namun omzetnya mencapai Rp 2 miliar sekali panen. Ini tidak masuk akal, antara nilai investasi dan omset,” jelasnya.

Karena itu, dengan luas lahan tambak yang diperkirakan mencapai 3 hektare, PT SSW Indonesia seharusnya mendaftarkan diri sebagai Non IUMK. Pantauan Jemmi, setiap petak tambak diperkirakan seluas 5.000 meter persegi

Dengan luas lahan tambak mencapai 3 hektare, lanjutnya, paling tidak ada sebanyak enam petak tambak. Di mana nilai invetasi setiap petak tambak diperkirakan mencapai Rp 400 juta.

“Sehingga PT SSW Indonesia masuk kategori Non IUMK atau modal usaha di atas Rp 500 juta. Ini tidak ada kesesuaian nilai invetasi. Mereka harus wajib melakukan migrasi,” kata Jemmi.

Atas temuan di lapangan, DPMPTSP akan melaporkan melalui Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dan ke OSS yang juga menerapkan sistem pengawasan secara online. “PT SSW Indonesia tidak kooperatif. Kami berikan teguran hingga dalam waktu sembilan bulan ke depan,” pungkas Jemmi. ****

Penulis: Ahmad Faisol
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved