Breaking News:

Berita Sampang

PT Garam Fokus Serap Garap Impor, Garam Rakyat Hanya Tertampung 1,5 Juta Ton

Bahkan sejak pemerintah membuka keran impor tahun lalu, garam rakyat tidak terserap semua di PT Garam.

Penulis: Ali Hafidz Syahbana | Editor: Deddy Humana
surya/ali syahbana
Garam rakyat menumpuk di Desa Gersik Putih, Kecamatan Gapura Sumenep, Selasa (23/3/2021). Garam rakyat semakin diabaikan negara, yang lebih memberi tempat untuk garam impor. 

SURYA. CO.ID, SUMENEP - Menumpuknya ribuan ton garam di gudang-gudang di sepanjang areal tambak garam di Sumenep, belum berubah sejak terakhir kali panen pada 2020 silam. Dan sampai 2021, nasib petani garam tetap merana karena sekarang harga garam sangat murah akibat kalah dari garam impor.

Sejak dua tahun terakhir, garam rakyat memang sedang kalah karena harga tidak pernah memberi kesejahteraan pada petani. Bahkan sejak pemerintah membuka keran impor tahun lalu, garam rakyat tidak terserap semua di PT Garam.

Hasil produksi garam sekitar 80.000 ton pada 2020, juga tidak terserap. Dampak tidak terserapnya garam rakyat ini, maka ribuan karung berisi kristal asin itu pun menumpuk di pinggir jalan, salah satunya di Jalan Desa Pinggir Papas, Kecamatan Kalianget, dan Jalan Desa Gersik Putih, Kecamatan Gapura Sumenep.

Garam tersebut ditutupi geomembran yang sudah tidak terpakai, agar aman dari hujan turun. Rafiqi, salah satu petambak garam ini bercerita bukan tidak mau menjual garam dari hasil produksi.

Namun menurutnya, yang melakukan penyerapan di Sumenep ini hanya satu perusahaan saja. "Sekarang harganya murah, mulai dari Rp 200.000 hingga Rp 400.00 per ton," kata Rafiqi, Selasa (23/3/2020).

Warga Kecamatan Gapura itu menegaskan, harga itu sangat tidak sesuai harapan Masyarakat. "Karena jika dibandingkan biaya operasionalnya, harga segitu tidak cukup," tuturnya.

Pihaknya berharap, pihak PT Garam Kalianget bisa menyerap garam rakyat. Sebab sudah lama perusahaan negara itu tidak melakukan penyerapan. "PT Garam sampai sekarang belum melakukan pemyerapan," katanya.

Direktur Utama PT Garam (Persero) Kalianget, Sumenep Achmad Ardianto mengatakan sejak 2019-2020 stok garam milik warga dan PT Garam tidak terserap maksimal. "Saat ini stok berlimpah dan ditambah ada garam impor. Maka harga garam menurun," kata Ardianto.

Tetapi Corporate Communication, PT Garam (Persero) Kalianget, Miftahul Arifin menampik bahwa garam rakyat tidak terserap. Sebab kata Miftahul, hingga hari ini pihaknya mengatakan PT Garam (Persero) ada sisa kuota garam rakyat sekitar 1,5 juta ton.

"Soal garam petani sekarang ada sisa kouta impor 1,5 juta ton garam, dan bisa diisi dari garam rakyat," kata Miftahul.

Menurutnya, sebenarnya kebutuhan impor sebanyak 4,6 juta ton dan baru terserap sekitar 3,07 juta ton garam. "Artinya 1,5 juta ton ini bisa diisi oleh garam rakyat, maka masih ada ruang untuk melakukan penyerapan," tambahnya.

Ditanya soal rendahnya harga garam petani, pihaknya mengaku sudah membeli di atas rata-rata harga normal. "Kalau harga normal sekitar Rp 200.000, kita sudah diatasnya dari harga normal itu," ucapnya. ****

Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved