Senin, 13 April 2026

Berita Gresik

Wayang Garingan Kental Filosofi Luhur Berbaur Ajaran Islam, Warga Gresik Diminta Terus Melestarikan

Diuraikan pria yang juga dalang itu, wayang garingan memang pertunjukkan sederhana meski tetap menampilkan tokoh-tokoh wayang kulit.

Penulis: Sugiyono | Editor: Deddy Humana
surya/mochamad sugiyono
Pertunjukan wayang garingan yang masih kerap dimainkan warga Desa Ngabetan, Kecamatan Cerme Gresik, Jumat (12/3/2021). 

SURYA.CO.ID, GRESIK - Tidak ada yang mengira bahwa di tengah derasnya modernisasi sekarang, masih terselip tradisi seperti wayang garingan yang kadang dimainkan warga Gresik.

Wayang garingan yang merupakan varian dari kesenian wayang kulit itu tetap dilestarikan di Kecamatan Cerme Gresik, karena menjadi warisan penuh filosofi.

Salah seorang budayawan Gresik, Hasanuddin menuturkan bahwa wayang garingan itu adalah sebutan untuk kesenian wayang kulit yang tanpa diiringi musik atau gamelan.

Biasanya pertunjukkan wayang garingan dibawakan seorang dalang secara monolog, seperti bertutur dan diadakan untuk tujuan tertentu.

Seperti saat kegiatan tasyakuran di Desa Ngabetan, Kecamatan Cerme, Jumat (12/3/2021), wayang garingan menjadi suguhan yang tetap menarik perhatian masyarakat.

"Kesenian wayang garingan merupakan salah satu budaya Jawa, dan tetap dilestarikan dalam acara yang biasanya untuk tolak balak. Juga dalam rangka untuk keselamatan bagi warga yang mempunyai acara," kata Ki Hasanuddin, begitu ia bisa disapa.

Diuraikan pria yang juga dalang itu, wayang garingan memang pertunjukkan sederhana meski tetap menampilkan tokoh-tokoh wayang kulit. Meski begitu menjadi media dakwah yang efektif di masa para wali di masa lalu.

"Ada dimensi dakwah dari pertunjukkan wayang garingan. Yaitu mendidik masyarakat atau penonton dari dimensi budaya Jawa maupun Islam," terangnya.

Hassanudin menambahkan, yang penting dari wayang garingan adalah sosialisasi para wali untuk menyebarkan ajaran Islam tanpa melalui perang, tetapi menyatu dengan budaya setempat. "Maka tidak heran kalau ada selipan huruf Jawa (Ha Na Ca Ra Ka) dalam pagelarannya," imbuhnya.

Sementara pemilik rumah produksi asal Mojokerto, Badi, yang ikut menyaksikan pertunjukkan wayang garingan menilai bahwa kesenian itu memang perlu dilestarikan.

Meski hanya orang-orang tua yang masih memainkannya, ia berharap kesenian tradisi itu perlu diketahui oleh khalayak.

"Setidaknya agar masyarakat Gresik dan daerah lain, mau dan masih nguri-uri (melestarikan) adat Jawa," kata Badi.  ****

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved