Kamis, 23 April 2026

Perempuan Penolong Petani Bondowoso

Saat Tomat dan Ubi Jatuh, Umi Rahma Membeli Lebih Mahal Sampai Belasan Ton (1)

Karena beberapa bulan belakangan, harga tomat memang jatuh di angka Rp 200 sampai Rp 500 per KG.

Penulis: Danendra Kusumawardana | Editor: Deddy Humana
surya/danendra kusumawardana
Pengusaha Bondowoso, Endang Rahma Sofaatin (34) atau Ummi Rahma mengecek kondisi ubi Cilembu yang dibeli dari para petani, Jumat (12/3). 

SURYA.CO.ID, BONDOWOSO - Tindakan yang yang dilakukan Endang Rahma Sofaatin (34), warga Jalan Mastrip, Dusun Karanggilih, Desa Pancoran, Kecamatan Bondowoso, Kabupaten Bondowoso sungguh mulia. Saat segala aktivitas ekonomi melambat akibat pandemi Covid-19, perempuan itu justru tidak berhenti membantu sesama.

Pengusaha lokal yang kerap dipanggil Umi Rahma itu kerap membantu para petani, utamanya petani tomat dan ubi. Karena beberapa bulan belakangan, harga tomat memang jatuh di angka Rp 200 sampai Rp 500 per KG.

Harga yang tidak masuk akal itu, sudah pasti memancing tangis para petani karena penghasilan mereka tidak sepadan dengan biaya penanaman.

Beruntunglah para petani Bondowoso, masih ada orang baik yang membantu. Salah satunya Umi Rahma. Melihat kondisi itu, hati Umi Rahma tergerak dan membeli tomat dari petani dengan harga layak dan sesuai kemampuan dana pribadi.

Tomat dari para petani dibeli Rp 2.500 per KG dan ternyata itu sudah ia lakukan sejak awal pandemi Covid-19, atau Maret 2020. Kini, Rahma sudah mendampingi 60 petani tomat yang tersebar di Bondowoso.

"Memang harganya tidak terlalu tinggi, hanya itu kemampuan kami. Setidaknya, petani tidak rugi lebih besar dan dapurnya tetap mengepul. Kami membeli tomat dari petani bisa sampai 2 ton sehari," kata Umi Rahma kepada SURYA, Jumat (12/3).

Tidak hanya petani tomat, ternyata petani ubi pun terbantu dengan kebaikan Umi Rahma. Betapa tidak, sekarang ubi seperti tidak berharga, bahkan jenis ubi Cilembu yang terkenal dengan rasanya yang semanis madu.

Harga ubi Cilembu hanya berkisar Rp 500 sampai Rp 700 per KG, padahal normalnya Rp 4.000 sampai Rp 5.000 per KG. Dan harga bisa lebih mahal saat dipasarkan di kota lain. Kondisi itu diperparah sepinya pembeli atau tengkulak ketika musim panen tiba. Para petani pun limbung, tidak tahu kemana menjual hasil panenya.

Umi Rahma pun trenyuh dan ia nekad membeli ubi petani dengan harga lebih tinggi, yaitu sekitar Rp 2.500 per KG. "Memang menyedihkan. Karena harga ubi Cilembu memprihatinkan. Jadi saya putuskan juga membeli hasil panen petani ubi Cilembu," terangnya.

Bahkan Umi Rahma tidak sekadar bersandar pada niat, tetapi juga turun langsung ke beberapa wilayah seperti Binakal, Curahdami, Pakem, dan Wringin yang menjadi permukiman para petani ubi. Dengan mengendarai motornya, ia menyusuri jalan sampai 50 KM dari rumahnya.

Terik matahari dan guyuran air hujan tidak dihiraukan oleh ibu 3 anak ini.  "Kondisi ekonomi para petani benar-benar terpukul. Satu-satunya mata pencahariannya adalah bertani. Mencari kerjaan sampingan di masa pandemi Covid-19 tidak mudah," paparnya.

Ia menyebutkan, ada 15 petani ubi yang ia dampingi. Umi Rahma membeli ubi dari petani mulai kuintalan hingga berton-ton.

"Sejak empat bulan lalu sebanyak 16 ton ubi saya beli dari petani. Banyak petani yang menghubungi saya berharap ubinya dibeli. Saya akan terus berupaya membantu petani ubi yang belum tercover dan sesuai kemampuan," pungkasnya. ****

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved