Liputan Khusus

Kasus Kejahatan dengan Pelaku Anak di Surabaya Fluktuatif, Polrestabes Surabaya Ungkap Penyebabnya

Tahun 2020, kriminalitas yang dilakukan anak berusia di bawah 18 tahun, meningkat kembali menjadi 10 kasus.

Penulis: Luhur Pambudi | Editor: Titis Jati Permata
surya.co.id/febrianto ramadani
Satreskrim Polsek Rungkut meringkus komplotan pelaku begal yang masih di bawah umur 

"Biasanya suka bawa senjata tajam. Jadi, kayak mungkin besi panjang, kayu, atau pisau," jelasnya.

Pelaku kriminal anak cenderung beraksi secara berkelompok atau berkomplot.

Di dalamnya, mereka memiliki pembagian tugas yang bersifat sistemik sebagai bentuk langkah teknis dalam menjalankan aksi.

"Ada yang itu backup-lah, ibaratnya. Nanti kalau misalkan membahayakan bagi dia, datang semua," tuturnya.

Menurut analisis sejumlah kasus yang acap ditanganinya. Oki menerangkan, para pelaku anak-anak itu cenderung mengincar benda milik korban yang terbilang mudah diuangkan.

Seperti ponsel, perhiasan, jam tangan, gelang, kalung, dan motor.

Setelah menguasai benda-benda incaran tersebut. Mereka cenderung tak ingin ribet dalam menguangkan hasil curian yang barusan diperoleh.
Terkadang mereka menjualnya melalui jejaring pertemanan pribadi, memanfaatkan media sosial; Facebook (FB), Instagram (IG), atau Twitter. Bahkan dengan harga sekenanya alias miring.

Artinya, ungkap Oki, mereka tidak memiliki jaringan komunikasi dengan penadah dalam menguangkan barang hasil curian, laiknya pelaku kejahatan kelas kakap.

Tujuannya, agar barang segera hilang dari hadapan mereka, dan bisa menikmati uang hasil penjualan barang curian, untuk berfoya-foya.

"Jual langsung, tidak tawar lagi, dikasihkan. Dia tidak akan melihat seberapa banyak uang yang dia dapat gitu," ujarnya.

Melacak proses pembentukan perilaku menyimpang anak yang berujung pada tindakan melanggar hukum.

Oki menerangkan, kecenderungan perilaku menyimpang anak dibentuk karena kondisi keluarga yang kurang memberikan perhatian.

Perhatian yang dimaksud, bisa berupa pendidikan moralitas kehidupan bersosial. Dan hal itu cenderung terjadi pada kondisi keluarga yang tidak fungsional.

Atau dalam pengertian lain, orangtua tidak menjalankan kewajiban utama sebagai pendidik dan pembimbing anak. Entah karena kedua orangtua tidak harmonis, atau sama-sama sibuk bekerja, atau telah tiada.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved