Breaking News:

Berita Magetan

Pesanan dari Penyuka Tanaman Hias Membanjir, Perajin Pot Tanah Liat di Magetan Megap-Megap

karena kecepatannya memproduksi pot bunga dari tanah liat seperti berkejaran dengan pesanan yang tak kunjung berhenti.

Pesanan dari Penyuka Tanaman Hias Membanjir, Perajin Pot Tanah Liat di Magetan Megap-Megap - perajin-pot-bunga-magetan-1.jpg
surya/doni prasetyo
Mbah Simah, salah seorang perajin gerabah di Desa Pojok, RT1/RW1, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan tetap mengais rezeki selama masa sulit.
Pesanan dari Penyuka Tanaman Hias Membanjir, Perajin Pot Tanah Liat di Magetan Megap-Megap - perajin-pot-bunga-magetan-2.jpg
surya/doni prasetyo
Mbah Simah, salah seorang perajin gerabah di Desa Pojok, RT1/RW1, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan dalam sehari bisa menghasilkan 40 - 50 pot bunga dan meraup Rp 200.000 sehari.

SURYA.CO.ID, MAGETAN - Memburuknya sektor ekonomi akibat terhimpit pandemi Covid-19, tetap membawa hikmah. Ketika semakin banyak orang menekuni hobi memelihara tanaman hias selama tinggal di rumah, itu menjadi berkah bagi perajin pot tanah liat di Magetan.

Mbah Simah misalnya, perajin pot tanah liat di Desa Pojok, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan ini mengaku sampai menolak banyaknya pesanan. Itu karena pesanan pot bunga terus berdatangan padahal stok miliknya sudah habis.

Selain itu, Mbah Simah seperti megap-megap karena kecepatannya memproduksi pot bunga dari tanah liat seperti berkejaran dengan pesanan yang tak kunjung berhenti.

"Kami malah kewalahan memenuhi orderan. Apalagi cuaca masih sering hujan. Sehingga pengeringan pot bunga yang baru dicetak sebelum dilakukan pembakaran, jadi lebih lama," kata perempuan berusia 65 tahun itu kepada SURYA di dapur sekaligus jadi bengkel pembuatan pot bunga dan gerabah, Jumat (5/3).

Menurut Mbah Simah, setiap hari ia mulai membuat pot setelah Subuh sampai pukul 11.00 WIB, dengan hasil 40-50 pot bunga ukuran besar. Dan rata-rata ia bisa memproduksi antara 280 sampai 350 pot bunga ukuran sedang dalam sepekan.

"Sudah sepekan ini proses pembakaran agak lama karena cuaca masih hujan. Kalau proses oven/pembakaran hanya sekitar 4 jam, pot sudah merah matang," tuturnya.

Dikatakan Mbah Simah, dari perajin pot bunga ukuran sedang ini dihargai Rp 4.000 per pot bunga. Jadi semua pot hasil produksi sejak dini hari sampai tengah hari bisa memberi penghasilan antara Rp 160.000 sampai Rp 200.000.

"Kalau anak saya bisa buat pot lebih dari 50 biji ukuran sedang. Upah itu baru bisa diambil sesudah pot-pot jadi, maksudnya setelah proses akhir keluar dari pembakaran," ujarnya.

Ia membenarkan, selama masa pandemi memang banyak orang hobi memelihara tanaman hias sehingga mencari pot dari berbagai ukuran.

Dan di musim tanaman hias sekarang, berbagai jenis juga dicari seperti Philodendron Micans, Opuntia Monacantha Variegata, Monstera, Hoya, Epiphyllum Chrysocardium, Cryptanthus Red, Calathea Black Lipstick, dan Begonia.

Sedangkan pesanan kebanyakan datang dari perorangan bukan pedagang. Namun bisa memesan sampai 1.000 pot berbagai ukuran dan varian. "Kami dapat 1.000 pot bunga ukuran sedang dari Surabaya. Ini perorangan, bukan pedagang. Untuk koleksi bunga-bunganya yang mahal," ujar Mbah Simah.

Pesanan sebanyak itu, lanjut Mbah Simah, tidak bisa dilayani mendadak. Karena pedagang yang pesan sebelumnya juga banyak. Kalau pedagang bisa mengambil stok yang ada, tetapi pemesan perorangan selalu minta cepat jadi.

"Proses pembuatan, pengeringan dan pembakaran saja butuh waktu sepekan. Kau minta cepat bisa kita ambilkan dari perajin lain di desa ini. kalau stok perajin di desa ini ada. Kalau tidak ada, ya kami tolak," tambahnya.

Dengan memnbanjirnya pesanan pot bunga, sampai-sampai para perajin di Desa Pojok menolak. Apalagi rata-rata pemesan selalu meminta banyak dalam waktu cepat.

"Kalau pot bunga, yang pesen dari perorangan dan pedagang meningkat. Tetapi kalau gerabah seperti, cobek pecel lele, cangkir, kuali, kendi dan lain lain, sepi. Bahkan untuk gerabah, peralatan rumah tangga, tidak laku," tandasnya. ***

Penulis: Doni Prasetyo
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved