Breaking News:

Bebas PPnBM, Harga Xenia Turun Rp 26 Juta, Tinggal Rp 184 Jutaan

Pabrikan mobil mulai merevisi daftar harga setelah mendapat diskon pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM).

Bebas PPnBM, Harga Xenia Turun Rp 26 Juta, Tinggal Rp 184 Jutaan
surya/sugiharto
Daihatsu Xenia

SURYA.co.id I JAKARTA - Pabrikan mobil mulai merevisi daftar harga setelah mendapat diskon pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM). Salah satu produk yang cukup diminati adalah Daihatsu Xenia.

Ini setelah mendapat pembebasan PPnBM senilai 14 juta. Selain itu, pihak diler masih memberikan diskon kisaran Rp 12 juta hingga Rp 14 juta

Kini Low MPV tersebut dibanderol mulai Rp 184,5 juta (tipe X MT 1.3 STD) sampai Rp 225,9 juta (tipe R AT 1.5 DLX).

Seperti diketahui, pada Februari lalu Xenia dihargai dari Rp 196,750 juta (tipe X MT 1.3 STD) hingga Rp 240,650 juta (tipe R AT 1.5 DLX).

Artinya harga Xenia turun mulai dari Rp 12,2 juta sampai Rp 14,75 juta. Ini pun masih bisa lebih murah karena diler tetap memberikan diskon reguler.

“Diskon ada tapi tidak sebesar bulan lalu, Xenia kemarin bisa sampai Rp 20 juta, sekarang Rp 12 juta,” ujar salah satu pramuniaga Daihatsu di Jakarta Timur, kepada Kompas.com (2/3/2021).

Baca juga: Daftar Harga Susuki Ertiga dan XL7 pasca-Insentif PPnBM, Turun Hingga Rp 30 Juta

Diskon pajak mobil baru ini memang diharapkan bisa mendongkrak penjualan mobil sehingga membangkitkan industri otomotif yang sempat anjlok karena pandemi COVID-19.

Namun, Amelia Tjandra, Marketing Director dan Corporate Planning & Communication Director PT Astra Daihatsu Motor, mengatakan, pihanya belum bisa memastikan seberapa besar peningkatan penjualan berkat diskon pajak mobil baru. Meskipun permintaan naik, karena bisa menstimulus calon konsumen yang punya kebutuhan dan punya daya beli. Menurutnya relaksasi pajak tidak serta merta membuat penjualan meningkat.

“Dalam kondisi pandemi safety nomor satu, tetap sehat dan jaga jarak walau berproduksi akan tetap kami laksanakan secara protokol kesehatan,” ucap Amelia, kepada Kompas.com (2/3/2021). “Jadi kenaikan realisasi penjualan tergantung stok masing-masing merek. Jika merek-merek punya stok banyak, mereka bisa merealisasikan demand jadi sales,” tuturnya.

Editor: Suyanto
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved