Breaking News:

Berita Lamongan

Bak Lamongan Masa Lalu, Banjir Paksa Para Siswa Madrasah Naik Perahu ke Sekolah

Rabu (3/3/2021) pagi itu, belasan siswa-siswi MI tampak antre naik perahu kecil yang biasa digunakan di tambak, untuk membawa mereka ke sekolah

Bak Lamongan Masa Lalu, Banjir Paksa Para Siswa Madrasah Naik Perahu ke Sekolah - siswa-sekolah-di-lamongan-naik-perahu1.jpg
surya/hanif manshuri
Para siswa Madrasah di Desa Simosari, Kecamatan Kalitengah Lamongan berangkat sekolah dengan menumpang perahu karena banjir, Rabu (3/3/2021).
Bak Lamongan Masa Lalu, Banjir Paksa Para Siswa Madrasah Naik Perahu ke Sekolah - siswa-sekolah-di-lamongan-naik-perahu2.jpg
surya/hanif manshuri
Para siswa Madrasah di Desa Simosari, Kecamatan Kalitengah Lamongan berjalan kaki setelah turun dari perahu di depan sekolah di tengah bencana banjir, Rabu (3/3/2021).

SURYA.CO.ID, LAMONGAN - Di masa lalu, Lamongan seperti selalu identik dengan banjir dan perahu masih menjadi sarana transportasi antar desa di kawasan tambak. Akibat banjir sekarang, mobilitas warga di pedesaan pun kembali memakai perahu, seperti dilalui para siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Thoriqotus Salam di Desa Simosari, Kecamatan Kalitengah.

Rabu (3/3/2021) pagi itu, belasan siswa-siswi MI tampak antre naik perahu kecil yang biasa digunakan di tambak, untuk membawa mereka ke sekolah. Tentu itu bukan perahu besar, sehingga para siswa harus duduk berhimpitan ketika perahu melaju di atas genangan air.

Setiap hari mereka harus menempuh 'pelayaran' sejauh 2 kilometer menggunakan perahu kecil itu untuk mencapai sekolahnya. "Mau bagaimana lagi. Hanya dengan perahu kita bisa sampai ke sekolah," kata Ilham, salah seorang pelajar MI Thoriqotus Salam.

Selain dari Desa Simosari, perahu-perahu juga membawa para siswa dari desa lain seperti Desa Bojoasri dan Gambuhan, yang lokasinya di sekitar anak Sungai Bengawan Solo. Meski menghadapi tantangan alam, anak-anak tetap bersemangat menuntut ilmu.

Setiap hari mereka naik perahu dengan dibantu personel Satpol PP dan TNI, tetapi ada juga yang memanfaatkan jasa tukang perahu. Tarifnya sangat murah, hanya Rp 3.000 per siswa untuk antaran berangkat dan pulang sekolajh.

Selama musim hujan ini, banjir akibat luapan sungai Bengawan Njero memang belum terselesaikan. Banjir membuat jalan desa terendam banjir, sedangkan jalan menjadi rusak sehingga mustahil bisa dilalui kendaraan apalagi berjalan kaki.

Selama dimulainya proses belajar tatap muka terbatas sekarang ini, jam berangkat para siswa memang lebih pagi karena perjalanan berperahu termasuk lama.

Seorang guru di MI Thoriqotus Salam, Muhammad Imron mengaku baru pertama kali ini para siswa menggunakan perahu sebagai alat transportasi untuk berangkat ke sekolah. Itu dilakukan karena banjir meluas dan genangan begitu tinggi.

"Meski tahun-tahun sebelumnya banjir, para siswa masih bisa berjalan kaki menuju sekolah, karena banjir tidak terlalu dalam," kata Imron.

Para wali murid berharap pemerintah segera mencari solusi untuk mengatasi banjir yang setiap tahun.

Sementara Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi mengatakan, banjir jilid 2 di Lamongan ini berimbas ke lima kecamatan. Tetapi saat ini berkurang dua kecamatan, yaitu Kecamatan Turi dan Kalitengah.

Saat ini, kata Yuhronur, pihaknya sudah mengaktifkan pompa air yang membuang air banjir ke Bengawan Solo dengan kapasitas yang besar. "Pompa sudah kita aktifkan. Mudah-mudahan dalam beberapa hari lancar dan genangan-genangan air bisa segera surut,” terang Yuhronur.

Sedangkan dalam pemantauan wilayah terdampak banjir, Yuhronur melakukan sidak dengan menaiki motor trail, didampingi Dandim 0812 Lamongan, Letkol Inf Sidik Wiyono dan Kapolres Lamongan, AKBP Miko Indrayana.

Sidak bermotor itu mengarah ke lokasi banjir di Desa Kemlagi lor, Bojoasri, Karanganom. Saat bertemu warga di wilayah terdampak, bupati meminta semua bersabar karena pemda mencari solusi baik untuk jangka pendek maupun jangan panjang. "Kami dari pemda tidak tinggal diam," katanya.

Dalam kunjungan itu, Yuhronur juga menyerahkan sembako untuk korban banjir. Rombongan Yuhronur pulang tidak melalui jalan saat berangkat, namun lewat Desa Laladan, dan Glugu menuju kota. ***

Penulis: Hanif Manshuri
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved