Breaking News:

Berita Surabaya

Babak Baru Kasus Salah Transfer Dana, Kuasa Hukum Ardi Tanggapi Statemen BCA yang Tidak Sinkron

Gara-gara pihak bank salah transfer duit Rp 51 juta, seorang nasabah di Surabaya harus berurusan dengan polisi dan jadi tersangka.

SURYA.CO.ID/Firman Rachmanudin
Gara-gara pihak bank salah transfer duit Rp 51 juta, seorang nasabah di Surabaya harus berurusan dengan polisi dan jadi tersangka. 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Kasus salah transfer yang dilakukan pihak Bank Central Asia (BCA) Kantor Cabang Pembantu (KCP) Citraland hingga berujung pada pemidanaan salah seorang nasabahnya, Ardi Pratama menemui babak baru.

Hendrix Kurniawan, kuasa hukum Ardi menanggapi adanya ketidak sinkronan antara pres rilis yang dibuat oleh biro humas BCA Pusat pada 27 Februari lalu.

Menurut Hendrix, dalam pres rilis itu disebut jika pelapor Ardi atas nama Nur Chuzaimah bukan mewakili BCA karena yang bersangkutan adalah mantan karyawan BCA.

"Padahal dalam berkas pemeriksaan itu pelapor masih mengaku jika masih berstatus sebagai karyawan BCA," kata Hendrix saat dihubungi SURYA.CO.ID, Rabu (3/3/2021).

Selain itu, keterangan rilis yang dikeluarkan oleh PT BCA,Tbk itu tertera jika telah melakukan upaya penyelesaian secara musyawarah, namun tidak ada itikad baik dari Ardi.

"Itu juga bohong. Tidak ada upaya musyawarah. Kalaupun ada, kapan tanggalnya dan di mana. Klien saya dipanggil berdasarkan somasi. Dua kali somasi didatangi dan ada itikad baik untuk mengembalikan dengan cara diangsur," sangkal Hendrix.

Dalam rilis tersebut, pihak BCA diwakili oleh Hera F Haryn selaku Exevutive Vice President Secretariat dan Corporare Communication memastikan jika apa yang sudah dilakukan oleh pihaknya sudah sesuai dengan standar operasional perbankan dengan ketentuan hukum yang berlaku.

Dalam kasus salah transfer itu, Ardi dijerat dengan pasal 85 UU nomor 3 tahun 2011 tentang transfer dana.

Lagi-lagi, sangkaan dan dakwaan dalam pasal itu disebut sebagai salah alamat, lantaran sebagai pelapor bukanlah pihak bank BCA sebagai lembaga perbankan.

"Pasal itu mengatur mekanisme perlindungan lembaga perbankan dan nasabah. Kalau kemudian yang lapor perseorangan apakah bisa dijeratkan pasal tersebut. Ini menjadi kontraproduktif dan harus diluruskan," terangnya.

Dalam kasus Ardi, Hendrix khawatir jika akan menjadi preseden buruk dalam kegiatan perbankan ke depan apabila kasus ini dipaksakan berlanjut.

"Keputusan tetap pada hakim. Kami berharap agar Hakim objektif. Tapi jika kemudian kasus yang kami duga sejak awal cacat formil itu dipaksakan, saya khawatir ini akan menjadi preseden buruk terhadap operasional perbankan dan hukum ke depan," tandasnya.

Guna mengonfirmasi status Nur Chuzaimah saat melaporkan kejadian salah transfer itu, SURYA.CO.ID mencoba menghubungi yang bersangkutan. Namun sampai berita ini ditulis, belum ada konfirmasi dari pelapor.

Penulis: Firman Rachmanudin
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved