Breaking News:

Berita Gresik

Semen Indonesia Masih Laba Rp 2,79 Triliun saat Pandemi, Berkat Keberhasilan Membuka Jalur Ekspor

Menyikapi kondisi pasar dalam negeri, pada 2020, Perseroan melakukan ekspor ke berbagai negara, seperti Australia, Bangladesh, Srilanka dan Cina

istimewa
Pelabuhan Teluk Bayur, Sumatera Barat, menjadi fasilitas penunjang ekspor produk semen SIG dan klinker ke berbagai negara. Di antaranya ke China, Senin (1/3/2021). 

SURYA.CO.ID, GRESIK - Di saat pandemi Covid-19, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) tahun 2020, berhasil mencatat kenaikan laba yang diatribusikan ke pemilik entitas induk sebesar 16,73 persen menjadi Rp 2,79 triliun, Senin (1/3/2021).

Direktur Utama SIG, Hendi Prio Santoso mengatakan, kondisi ekonomi dan industri semen di Indonesia memang terdampak pandemi Covid-19. Selain itu, ketatnya persaingan menjadi pelecut, sehingga Perseroan mampu melalui 2020 dengan pencapaian kinerja yang baik, khususnya dalam efisiensi biaya.

Kinerja keuangan konsolidasian tahun 2020 dapat disampaikan pendapatan tercatat Rp 35,17 triliun, turun 12,87 persen dibandingkan 2019 sebesar Rp 40,37 triliun.

Selain itu, beban pokok pendapatan tercatat sebesar Rp 23,56 triliun atau turun 14,82 persen dibandingkan tahun 2019 sebesar Rp 27,65 triliun.

Laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp 2,79 triliun atau naik 16,73 persen dibandingkan tahun 2019 sebesar Rp 2,39 triliun.

Menurut Hendi, perseroan mampu menjaga kinerja melalui berbagai inisiatif strategis, di antaranya, beban pokok pendapatan tahun 2020 mengalami penurunan yang lebih besar dibandingkan dengan penurunan pendapatan.

Sehingga mampu mencatatkan peningkatan marjin EBITDA (Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization) menjadi 25,80 persen.

Selain itu, Perseroan juga melakukan pengelolaan arus kas secara disiplin, serta menerapkan kebijakan belanja modal ketat, sehingga mampu mengelola arus kas dari aktivitas operasi tetap positif.

"Akibat pandemi Covid-19, sepanjang tahun 2020 Perseroan membukukan pendapatan Rp 35,17 triliun, lebih rendah 12,87 persen, dibandingkan tahun sebelumnya," kata Hendi dalam rilis humas SIG.

Menurut Hendi, hal itu tersebut disebabkan turunnya permintaan produk bahan bangunan dan beberapa proyek strategis nasional mengalami penundaan akibat kebijakan realokasi anggaran Pemerintah.

Menyikapi kondisi pasar dalam negeri, pada 2020, Perseroan melakukan ekspor ke berbagai negara, seperti Australia, Bangladesh, Srilanka dan Cina. Ini sejalan dengan visi perusahaan yaitu menjadi perusahaan penyedia solusi bahan bangunan terbesar regional.

"SIG terus berupaya mengoptimalkan potensi pasar baru dan menghadirkan berbagai solusi di bidang building material," imbuhnya.

Pada 2020 SIG meluncurkan berbagai solusi baru, baik produk baru, seperti masonry cement, maupun pengembangan digital marketing dengan menghadirkan beberapa platform, seperti Sobat Bangun, Akses Toko serta Official Store.

"Semua itu untuk memberikan kemudahan kepada pelanggan dalam mendapatkan produk-produk SIG," katanya. ****

Penulis: Sugiyono
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved