Breaking News:

Berita Banyuwangi

Ngopi Bersama Penyandang Disabilitas, Bupati Banyuwangi Terkesan Tema "Limitation is Only A Mindset"

Semua kantor OPD dan pelayanan publik menerapkan aturan dan menyediakan fasilitas yang ramah bagi penyandang disabilitas

surya/haorrahman
Bupati Banyuwangi, puk Fiestiandani Azwar Anas bertemu penyandang disabilitas yang mengikuti "Nongkrong Ilmu Bareng (Nongkibar) Milenial Batch 17". 

SURYA.CO.ID, BANYUWANGI - Perhatian kepada para penyandang disabilitas menjadi salah satu upaya yang ditekankan Ipuk Fiestiandani Azwar Anas di awal tugasnya menjadi Bupati Banyuwangi. Untuk itu, Ipuk meminta semua kantor Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan pelayanan publik menerapkan aturan dan menyediakan fasilitas yang ramah bagi penyandang disabilitas.

Sehari usai dilantik menjadi bupati, Sabtu petang (27/2/2021) Ipuk berkunjung ke kantor Dinas Pendidikan Banyuwangi. Di sana Ipuk berkeliling ke beberapa ruangan termasuk aula Dinas Pendidikan.

"Saya minta setiap kantor dinas dan pelayanan publik ramah untuk disabilitas. Ini agar mereka nyaman dan aman saat mengurus kebutuhan mereka. Sudah banyak yang ramah disabilitas, tetapi belum semua. Harus terus ditambah," ujar Ipuk.

Ipuk melihat di pintu masuk ruang rapat hanya terdapat anak tangga tanpa bidang miring sebagai jalan masuk. Ini akan menyulitkan teman daksa yang menggunakan kursi roda.

"Kalau begini susah bagi teman daksa yang memakai kursi roda. Saya lihat ruang lain sudah ada bidang miring, yang di ruang ini belum ada, jadi saya minta dilengkapi. Kepala dinas harus memperhatikan fasilitas kenyamanan para disabilitas. Mereka memiliki hak yang sama untuk memperoleh pelayanan yang baik," pinta Ipuk.

Di Dinas Pendidikan, Bupati Ipuk bertemu dengan para penyandang disabilitas yang mengikuti "Nongkrong Ilmu Bareng (Nongkibar) Milenial Batch 17". Nongkibar ini mengangkat tema “limitation is only a mindset” (keterbatasan hanyalah sebuah pola pikir).

Di acara tersebut, Ipuk juga sempat ngopi santai bersama teman daksa bernama Dio Gitarama (29). Magister pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung itu merupakan peneliti anak berkebutuhan khusus (ABK).

Pria kelahiran Banyuwangi itu juga menjadi mentor pendidikan ABK. Ipuk dan Dio banyak mengobrol tentang pendidikan dan kebutuhan ABK. "Selain membutuhkan latar belakang pendidikan mumpuni, yang dibutuhkan adalah kesempatan kerja. Kesempatan kerja buat penyandang disabilitas saat ini masih minim," kata Dio kepada Ipuk.

Ipuk mengatakan telah menyiapkan program-program untuk penyandang disabilitas. Seperti beasiswa bagi anak-anak disabilitas, pelatihan bagi yang ingin berwirausaha, bantuan alat usaha, dan lainnya.

"Begitu juga peningkatan kualitas guru pendamping di sekolah-sekolah inklusif. Nantinya akan mendapatkan tambahan ilmu seperti kursus-kursus dengan menghadirkan akademisi atau praktisi yang mumpuni,” jelas Ipuk.

Halaman
12
Penulis: Haorrahman
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved