Breaking News:

Berita Bondowoso

Pemandian Alam Tasnan Lebih Cantik Setelah Renovasi, Tantangannya Hanya Kisah Seram dari Masyarakat

Fitri membenarkan beberapa tahun silam Pemandian Tasnan ini mangkrak, karena tidak dikelola dengan baik.

surya/danendra kusumawardana
Pemandian Alam Tasnan Bondowoso yang dikenal angker, kini lebih asri dan bersih setelah diperbaiki. 

SURYA.CO.ID, BONDOWOSO - Stigmatisasi terhadap kolam Pemandian Alam Tasnan di Bondowoso karena keangkerannya, memang sulit dihapus warga sekitar. Sekarang tempat wisata itu sudah lebih cantik dan menarik setelah diperbaiki total, meski kesan angker sesekali masih muncul karena keberadaan pohon Ara yang menjulang di samping kolam.

Warga menganggap pohon itu keramat, sehingga sering menggelar ritual bakar dupa dan membawa sesajen. Beberapa tahun silam wisata pemandian alam yang berlokasi di Desa Taman, Kecamatan Grujugan ini memang mangkrak, kolamnya dibiarkan berlumut.

Ditambah kisah-kisah seram yang dituturkan warga terkait anak tenggelam sekitar tahun 2000. Tenggelamnya anak itu lantas dikaitkan dengan penghuni kawasan itu yang meminta tumbal. Perbincangan warga malah menambah kesan horor di Pemandian Tasnan.

Namun kini Pemandian Alam Tasnan telah bersolek. Kawasan pemandian tampak bersih. Air kolam juga jernih karena berasal dari sumber alami tanpa kaporit.

Seorang petugas tiket kolam renang, Fitri mengatakan, Pemandian Tasnan sebenarnya sudah menjadi tempat yang nyaman untuk berenang setelah diperbaiki.

Dan tempat itu dibuka kembali di era new normal pandemi Covid-19, mulai pukul 08.00 WIB hingga 16.00 WIB. Bagi warga yang ingin merasakan berenang di bawah pohon rindang nan sejuk, patut mengunjunginya.

Pemandian ini memang bersebelahan dengan hutan pinus. "Pengunjung hanya dikenakan tiket masuk sebesar Rp 10.000. Kalau hari libur tarifnya Rp 12.000," kata Fitri, Jumat (26/2).

Fitri membenarkan beberapa tahun silam Pemandian Tasnan ini mangkrak, karena tidak dikelola dengan baik. "Sekarang kondisinya sudah bagus. Kolamnya bersih. Kami kuras satu minggu dua kali. Kalau dulu sangat kotor dan tidak terawat," ungkapnya.

Fitri tidak menampik bahwa kesan angker belum memudar sepenuhnya di sejumlah kalangan pengunjung. Beragam cara pun dilakukan pengunjung agar tidak diganggu makhluk halus.

"Beberapa pengunjung desa kalau masuk ke pemandian ini, baca-baca shalawat. Setelah itu baru mereka berenang seperti biasa. Sebenarnya tidak ada kejanggalan ketika berenang di sini," pungkasnya. ***

Penulis: Danendra Kusumawardana
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved