Breaking News:

Berita Magetan

Dugaan Pungli Dialami Ratusan Siswa SMA di Magetan, Wali Murid Lapor ke Ombudsman

Dugaan pungli dengan modus untuk peningkatan mutu pendidikan itu, sudah dilakukan rutin setiap bulan kepada wali murid dari kelas 10 sampai 12.

surya/doni prasetyo
Salah satu SMA di Kabupaten Magetan yang ditengarai melakukan pungutan liar (pungli) tampak dari depan, Kamis (25/2/2021). Diduga praktik pungli juga terjadi di sekolah lain. 

SURYA.CO.ID, MAGETAN - Para orangtua atau wali murid SMA di Kabupaten Magetan melapor ke Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Surabaya, Kamis (25/2/2021), setelah adanya dugaan pungutan liar (pungli) yang dilakukan pihak sekolah yang diperkirakan mencapai total ratusan juta.

Dugaan pungli dengan modus untuk peningkatan mutu pendidikan itu, sudah dilakukan rutin setiap bulan kepada wali murid dari kelas 10 sampai 12. Besaran tarikannya pun bervariasi di setiap kelas di SMA .

Salah seorang wali murid mengungkapkan, pungli yang diminta setiap bulan itu diumumkan saat ada pertemuan di sekolah, padahal dalam undangan tidak menyebut permintaan pungutan yang disebut "sumbangan peningkatan mutu pendidikan".

"Setiap siswa tarikannya berbeda. Kelas I dan II, serta kelas III, tidak sama tarikannya. Tetapi semua diwajibkan membayar sampai sekarang," kata Sandi Wijaya, salah seorang wali murid yang melapor ke perwakilan Ombudsman Jawa Timur didampingi Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) Patriot kepada SURYA, Kamis (25/2).

Dijelaskan Sandi, pungli untuk kelas I ditetapkan sebesar Rp 75.000, kelas II Rp 60.000 dan kelas III Rp 50.000. Sedangkan siswa ada sebanyak 958 orang, dengan 30 rombongan belajar (rombel), dengan jumlah 31 ruang kelas.

"Di SMAN 2 Magetan ada anggaran senilai Rp 50.000.000 sampai Rp 60.000.000 yang tidak bisa dipertanggungjawabkan sumber dan penggunaannya," kata Sandi sembari menunjukan bukti laporan ke Ombudsman Jawa Timur.

Menurut Sandi, laporan kepada Ombudsman itu ditembuskan ke SMAN bersangkutan dan UPT Diknas Provinsi Jawa Timur via pos. "Akhir Februari ini Ombudsman Jawa Timur akan mendatangi sekolah itu untuk mengklarifikasi laporan wali," ujar Sandi.

Pungli yang dilakukan SMAN itu, lanjut Sandi, termasuk sangat tega. Pasalnya bahwa orangtua siswa yang menjadi wiraswasta dan penghasilan mereka sulit untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya karena pandemi Covid-19.

"Pungli sekolah ini tergolong kejam, di masa pandemi seperti ini ada SMA justru tega kepada 958 peserta didiknya. Dari nilai tarikan rutin itu, kalau jumlahnya diamumulasi per bulan kali jumlah siswa terkumpul pungli ratusan juta," tegasnya.

Diungkapkannya, kalau sekolah menarik uang bulanan rutin, maka yang patut dipertanyakan kemana dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) selama ini.

Sementara Humas Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Jawa Timur di Magetan, yang dikonfirmasi lewat aplikasi WhatsApp mengaku belum mengetahui adanya surat tembusan laporan wali murid ke Ombudsman itu. ****

Penulis: Doni Prasetyo
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved