Breaking News:

Berita Kampus Surabaya

The Sunan Ampel Review of Political dan Social Studies Jadi Andalan Jurnalisme FISIP UINSA

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya mengadakan diskusi bertema Internasionalisasi Jurnal.

Foto: humas uinsa
Dosen FISIP UINSA, Khoirun Ni’am diskusi bertema Internasionalisasi Jurnal, Selasa (23/2/2021).  

SURYA.CO.ID | SURABAYA - Publikasi jurnal internasional merupakan nilai tambah bagi lembaga pendidikan.

Hal ini bahkan  telah menjadi target perguruan tinggi untuk meningkatkan reputasinya di kancah global.

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya mengadakan diskusi bertema Internasionalisasi Jurnal, Selasa (23/2/2021).

Dekan FISIP UINSA, Prof Akh Muzakki menyampaikan saat ini ada beberapa jurnal berbasis prodi yang ada di FISIP.

Yaitu The Sociology of Islam, Journal of Integrative International Relations, Indonesian Journal of Political Studies, Publique, Politique, dan Siyar. 

Sedangkan proyeksi jurnal yang akan diproyeksikan mampu bersaing di kancah internasional bernama The Sunan Ampel Review of Political dan Social Studies.

"Beberapa jurnal masih dalam tahap pembukaan, dan ada yang telah berjalan dalam beberapa tahun terakhir,"urainya.

Sementara The Sunan Ampel Review of Political dan Social Studies akan menjadi jurnal yang digadang-gadang mampu mewarnai jurnalisme akademik civitas akademika FISIP. 

 “Pertemuan siang ini penting untuk menguatkan perspektif dan jurnalisme kita di FISIP.

Mengingat kompetitor kita lebih hebat sehingga memerlukan penguatan yang lebih serius,” ujarnya.

Dosen FISIP, Khoirun Ni’am yang hadir sebagai narasumber memaparkan bahwa pemilihan diksi nama menjadi sangat penting dalam menentukan arah dan irisan bidang yang akan digeluti oleh sebuah jurnal. 

Diksi nama akan mempertegas dan memperjelas bidang keilmuan yang akan diterbitkan jurnal tersebut.

"Selain itu, diksi yang tepat akan mempermudah kontributor dan pembaca dalam memberikan kontribusi dan mengonsumsi jurnal tersebut,"paparnya.

Diksi nama yang tepat ini tidak berpengaruh pada penilaian status sebuah jurnal, namun hal itu akan memudahkan pembaca dan kontributor tulisannya. 

“Pemilihan nama yang tepat disamping mempertegas dan memperjelas keilmuan, juga akan mempermudah orang untuk menulis dan membaca artikel dari sebuah jurnal,” ujar Ni’am.

Selanjutnya, Ni’am menyampaikan bahwa status internasional atau nasional sebuah jurnal akan mempengaruhi penulisnya. 

Bila sebuah jurnal akan diarahkan pada level internasional, maka penulisnya harus berasal dari berbagai negara luar dengan kuota 60 persen. 

Sedangkan bila sebuah jurnal diproyeksikan menjadi jurnal nasional, maka juga harus memperhatikan 60 persen penulis yang dari luar kampus asal jurnal itu dan mewakili berbagai daerah di seluruh Indonesia. 

“Keterwakilan 60 persen penulis luar tergantung skala apakah itu internasional maupun nasional menjadi hal yang harus diperhatikan oleh pengelolaan jurnal,” paparnya.

Secara umum, narasumber yang dikenal sebagai mentor awak jurnal dalam skala nasional ini menyampaikan bahwa ada 18 strategi pengelolaan jurnal menuju manajemen keredaksian yang mampu menjadi jembatan jurnalisme yang bermutu. 

Sebanyak 18 langkah itu dapat diperas lagi menjadi 9 langkah dalam pengelolaan jurnal. 

"Sebuah jurnal juga harus menguatkan editorial dan reviewer. Pada banyak kasus manajemen keredaksian sebuah jurnal memiliki kekhasan masing-masing, sehingga mempengaruhi posisi kualitas jurnalnya,"urainya.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved