Breaking News:

Berita Lumajang

Petani Ubi di Lumajang Menjerit, Panen 60 KG Hanya Laku Rp 10.000

Seperti Yudi dan teman-temannya sesama petani ubi di Desa Pasrujambe Lumajang yang merasa impiannya meraup untung pudar

surya/tony hermawan
Seorang petani memanen tanaman ubinya di Desa Pasrujambe, Lumajang, Selasa (23/2/2021). Harga ubi seperti mencapai titik nadir. 

SURYA.CO.ID, LUMAJANG - Kalau ada anggapan bahwa hanya garam yang menjadi komoditas termurah, maka itu salah. Karena di masa panen sekarang, hati para petani ubi di Lumajang sedang hancur karena harga komoditas pangan itu hanya dihargai Rp 10.000 per 60 KG!

Dengan harga itu, pupus sudah harapan petani ubi. Seperti Yudi dan teman-temannya sesama petani ubi di Desa Pasrujambe Lumajang yang merasa impiannya meraup untung pudar. "Sudah menjerit ini, petani tidak untung sama sekali," ujar Yudi, Selasa (23/2/2021).

Jatuhnya harga ubi, bukan berarti penderitaan petani selesai begitu saja. Melimpahnya ubi sekarang, membuat tengkulak jual mahal alias pilih-pilih ketika memborong ubi.

Salah satunya, tengkulak sekarang hanya bisa menerima ubi yang berukuran sedang. "Kalau besar, tetapi bentuknya tidak rata alias bergelombang, tengkulak tidak mau membeli, " terang Yudi.

Sebenarnya, menurut Yudi, harga ubi sudah merosot sejak lima bulan terakhir. Tetapi belakangan harga malah semakin tak karuan. Apalagi jika dihitung, untuk bertanam ubi di lahan seluas satu hektare utuh biaya kurang lebih Rp 12 juta.

"Jadi kalau ubi harus dihargai hanya Rp 10.000 per 60 KG maka kerugian petani sudah tidak masuk akal. Malahan areal yang tempat panennya agak jauh dari jalan, ubi hanya ditawar Rp 5.000 per 60 KG," keluhnya.

Yudi menyebut merosotnya harga ubi dipengaruhi beberapa faktor. Yang paling utama, bulan ini kebetulan ada tiga daerah yang juga panen ubi yaitu Lumajang, Banyuwangi, dan Mojokerto. "Terus pembatasan sosial ini juga berpengaruh, kami jadi susah kirim barang luar kota," katanya.

Yudi dan para petani ubi lainnya di Lumajang tidak bisa berbuat banyak selain mengikuti harga pasar. Diakuinya, ia sempat berencana membiarkan ubi-ubinya membusuk di sawah tanpa dipanen. Namun karena desakan ekonomi, ia akhirnya mengurungkan niatan itu.

Tetapi ia mengakui, sebelumnya menjadi petani ubi adalah pekerjaan menguntungkan. Sebab kalau petani sedang bernasib baik, keuntungan menjual ubi bisa tiga kali lipat dibanding menanam padi.

"Misalnya kalau padi satu hektare bisa untung Rp 3 juta, kalau ubi bisa Rp 9 juta. Itu kalau harga sedang bagus. Semoga saja harga bisa kembali naik di atas rata-rata, dan lockdown bisa segera dibuka agar aktivitas kirim keluar kota bisa dilakukan," pungkasnya. ***

Penulis: Tony Hermawan
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved