Berita Malang Raya

Perkuat Literasi, Cangkir Opini bersama DPD IMM Jatim Diskusi Milenial Bicara Perdamaian

Cangkir Opini bersama Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Timur kembali menggelar diskusi edukatif.

Penulis: Erwin Wicaksono | Editor: Parmin
surya.co.id/erwin wicaksono
Suasana Cangkrukan Milenial digelar Cangkir Opini bersama Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Timur. 

SURYA.co.id | MALANG - Cangkir Opini bersama Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Timur kembali menggelar diskusi edukatif.

Milenial Bicara Perdamaian jadi bahasan hangat dalam perbincangan kali ini.

Diskusi disiarkan secara langsung dari Rumah Baca Cerdas (RBC) Institut A. Malik Fajar, Kota Malang via live streaming channel YouTube Cangkir Opini pada Selasa (23/2/2021).

Narasumber berkompeten tentang perdamaian Islam dihadirkan. 

Mereka adalah Mantan Napi Teroris, Ustad Pujianto, Direktur Eksekutif RBC Institute, Subhan Setowara dan Peneliti Equal Acces, Nafik Muthohirin.

Pada pembukaan diskusi, Mantan Napi Teroris, Ustad Pujianto menceritakan jika dirinya sedang mencari makna sebuah khilafah sebelum terumus ke jurang terorisme.

"Dulu saya berpikir masalah umat bisa selesai dengan khilafah," terang Pujianto.

Bertahun-bertahun mencari jati diri, Pujianto akhrinya bertemu dengan seorang sosok sentral dalam terorisme. Namun ia menyadari hal tersebut tidak benar dan akhirnya bisa kembali kepada akidah yang benar dari ajaran Islam.

"Yang terpenting adalah pemahaman yang benar tentang akidah Islam," ucapnya.

Sedang Direktur Eksekutif RBC Institute, Subhan Setowara menyatakan pemahaman dan cara belajar yang tepat menjadi fundamental yang wajib dalam mewujudkan perdamaian berbasis ajaran Islam.

"Kalau ingin membaca (memepelajari) sesuatu harus tuntas jangan setengah-setengah. Lalu jangan dari satu sumber saja," kata ia.

Senanda dengan Subhan, peneliti Equal Acces, Nafik Muthohirin berpesan kepada para milenial masa kini agar menghindari disinformasi yang beredar luas di dunia maya.

Alhasil, pengujian validitas kebenaran sebuah ilmu harus ditekankan dalam mempelajari sesuatu.

"Nah kini, banyak infromasi yang diilhami anak muda tentang agama melalui digital," terangnya.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved