Breaking News:

Berita Tulungagung

Ingin Memperbaiki Rumah, Petani di Tulungagung Malah Menebang Jati di Lahan Perhutani

Petugas menyita 21 potong kayu jati dari rumah Ltb dan menetapkannya tersangka penebangan sejumlah pohon di area hutan milik Perhutan

istimewa
Tersangka Ltf, seorang petani asal Desa Ngubalan, Kecamatan Kalidawir dan barang bukti kayu jati curian. 

SURYA.CO.ID, TULUNGAGUNG - Rencana Ltb (39), petani asal Desa Ngubalan, Kecamatan Kalidawir, memperbaiki rumahnya belakangan harus berurusan dengan penegak hukum.

Ia dijemput petugas Polsek Kalidawir dan polisi hutan (polhut) di rumahnya, karena mencuri kayu jati dari lahan milik Perhutani untuk bahan perbaikan rumahnya.

Petugas menyita 21 potong kayu jati dari rumah Ltb dan menetapkannya sebagai tersangka penebangan sejumlah pohon di area hutan milik Perhutani. Polisi juga menyita gergaji tangan dan kapak untuk menebang pohon-pohon itu.

"Semula ada yang curiga melihat tumpukan kayu jati di rumah seorang warga," terang Kasubag Humas Polres Tulungagung, Iptu Tri Sakti Saiful Hidayat, Selasa (23/2/2021).

Warga yang melihat tumpukan kayu jati itu mengadu ke Perhutani dan diteruskan Polsek Kalidawir. Polisi dari Polsek Kalidawir dan Perhutani segera memeriksa ke lokasi yang disebutkan.

Pemilik rumah mengaku tumpukan kayu itu bukan miliknya, tetapi titipan dari Ltb. "Petugas kemudian menginterogasi Ltb untuk memastikan asal kayu-kayu itu," sambung Tri Sakti.

Di depan petugas Ltb mengaku mencuri pohon di area hutan Perhutani. Total ada empat pohon jenis jati yang sudah ditebangnya.

Ia berdalih, empat pohon itu rencananya akan digunakan untuk memperbaiki rumahnya. "Tersangka mengaku sudah dua kali mencuri pohon di area hutan Perhutani," ungkap Tri Sakti.

Ltb mencuri pohon-pohon itu dari petak 2A dan 3A RPH Ngubalan BKPH Rejotangan, BH Blitar-KPH Blitar. Pohon-pohon itu ditebang dengan alat manual, kemudian dipotong-potong dan dibawa ke permukiman.

Polisi menjerat Ltb dengan pasal 83 ayat 1 huruf b Undang-undang nomor 18 tahun 2013, tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan. Ia terancam dengan hukuman penjara paling lama lima tahun. ****

Penulis: David Yohanes
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved