Breaking News:

Berita Kediri

Home Industri Pupuk Cair Oplosan Ilegal di Kota Kediri Digerebek Polisi, Raup Keuntungan Rp 40 Juta

Home Industri pupuk cair oplosan yang beroperasi tanpa izin digrebek Satreskrim Polres Kediri Kota.

Humas Polres Kediri Kota
Barang bukti home Industri pupuk oplosan ilegal diamankan di Mapolres Kediri Kota. 

SURYA.CO.ID, KEDIRI - Home Industri pupuk cair oplosan yang beroperasi tanpa izin digrebek Satreskrim Polres Kediri Kota.

Petugas mengamankan 11 orang yang terkait produksi pupuk ilegal.

Kasubag Humas Polres Kediri Kota Kompol Kamsudi menjelaskan, kasus tindak pidana sistem budidaya pertanian atau perdagangan ini dimiliki MH (43) warga Kelurahan Manisrenggo, Kota Kediri.

"Awalnya petugas mendapatkan informasi dari masyarakat di Jl Kemiri Kota Kediri ada pelaku usaha pupuk cair yang mengedarkan pupuk tidak terdaftar dan berlabel yang tidak memenuhi SNI," ungkap Kompol Kamsudi, Selasa (23/2/2021).

Selanjutnya petugas melakukan serangkaian tindakan kepolisian mendapatkan fakta laporan dari masyarakat tersebut benar.

Baca juga: Dua Hari Tak Terlihat Warga, Pria Ponorogo Ini Ditemukan Meninggal di Dalam Rumah

Baca juga: Pasutri di Kabupaten Malang Gadaikan 19 Mobil Sewaan, Berdalih untuk Operasional Koperasi

Baca juga: BLT Karyawan Segera Cair Tahun 2021 Tapi Terbatas, Ini Daftar Penerima Subsdi Gaji Menurut Menaker

Petugas kemudian melakukan penggeledahan di rumah milik MH yang digunakan untuk melakukan produksi pupuk cair.

Sedangkan hasil produksi pupuk cair tersebut diduga tidak terdaftar dan berlabel sehingga tidak memenuhi ketentuan SNI.

Pada penggeledahan itu petugas mengaman 11 orang yang terkait dengan proses produksi pupuk cair ilegal.

Rinciannya satu orang pelaku selaku pemilik usaha, 3 orang bagian gudang dan pengemasan, 3 orang sales, 3 orang sopir dan satu orang bagian admin.

Sementara pengakuan MH, pembuatan pupuk cair tersebut dilakukan secara otodidak yang telah dilakukan sejak bulan Desember 2019.

"Pemilik usaha tersebut mendapatkan omset setiap bulan kurang lebih Rp 40 juta," jelas Kompol Kamsudi.

Petugas mengamankan barang bukti terdiri 2 unit Daihatsu Grandmax dan satu unit Isuzu Traga.

Selain itu satu alat pengaduk, 3 buah corong, 2 buah mesin siller, 2 alat pengepres, 2 buah mesin bor pengaduk, satu dus mahkota, 10 biji mahkota tikus, 50 biji kalium fosfat 500 ml, 2 dus kalium fosfat 250 ml, 2 slip sitokinin, 14 slop giberlin, 9 slop auksin, satu dus MKP 500 ml, satu dus MKP 1 liter serta satu dus ZN kuning.

Kemudian 9 dus lem 500 ml, 10 slop serbuk jagung, 3 dus kumbang, 2 dus super flora, 9 slop fungisida anti potong leher, 5 dusb tripel Z, 3 dus super glue, satu dus super boom doster, 3 slop power grip, 2 dus ZNS 04, satu dus KNO3 putih, 2 dus KNO3 merah, 5 dus kalium serbuk, 3 dus kalium cair 500 ml, 4 dus super tonik, satu dus sun Selly, satu dus ZN putih 1 liter, 2 dus KCL 1 liter, satu dus Grandmax 500 ml, 3 dus button dan satu dus NPK hijau.

Kompol Kamsudi menjelaskan, tersangka bakal dijerat pasal 122 Jo pasal 73 UU RI NO 22 tahun 2019 tentang Sistem Budidaya Pertanian atau pasal 113 Jo pasal 57 ayat (2) UU RI NO. 7 tahun 2014 tentang Perdagangan.

Sementara ancaman hukumannya pidana penjara paling lama 6 tahun atau denda paling banyak Rp 3 miliar atau pidana penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak Rp 5 miliar.

Penulis: Didik Mashudi
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved