Breaking News:

Berita Situbondo

Selain Menjadi Alternatif Pangan non Padi, Budidaya Sorgum di Situbondo juga Penuhi Kebutuhan Ternak

saat ini stok pakan batang Sorgum sudah habis, sedangkan kebutuhan untuk pakan ternak di Situbondo masih cukup besar

surya/izi hartono
Petani Situbondo sedang mengolah batang tanaman sorgum yang dipanen untuk pakan ternak. 

SURYA.CO.ID, SITUBONDO - Potensi tanaman sorgum di lahan marjinal atau lahan kritis di Situbondo, ternyata sangat menjanjikan. Selain hasil bijinya bisa dicanangkan sebagai alternatif sumber pangan di luar padi, batang sorgum juga menjadi tambahan nutrisi untuk pakan ternak.

Karena itu Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakwan) Pemkab Situbondo terus menggenjot produksi tanaman sorgum untuk mencukupi pasokan pakan ternak dengan memanfaatkan lahan marjinal. Karena dari penelitian dan penerapan, sorgum memang mengandung nutrisi tinggi.

Kepala Disnakwan, Drh Muhammad Hasanuddin mengatakan, pihaknya telah berkonsentrasi pada usia sorgum yang baik dan optimal agar bisa menghasilkan nutrisi untuk ternak. Untuk pakan ternak ini, yang diambil adalah batang dan daun sorgum.

"Setelah kita uji di laboratorium, ternyata nutrisi pada batang tanaman sorgum cukup tinggi," ujar Hasanudin kepada SURYA, Jumat (21/02/2021).

Menurut Hasanuddin, saat ini stok pakan batang Sorgum sudah habis, sedangkan kebutuhan untuk pakan ternak di Situbondo masih cukup besar. "Kebutuhan pakan ternak kita sebanyak 5,4 juta KG per hari, itupun hanya untuk sapi. Belum kambing dan domba," kata Hasanuddin.

Hasanuddin mengakui pihaknya belum dapat memenuhi kebutuhan pakan ternak tersebut, namun akan berupaya merubah pola pencarian pakan yang selama ini masih manual (memakai sabit).

"Saya berharap (dengan beralih ke sorgum), masyarakat hanya sekali mencari dengan sabit, dan selanjutnya bisa menyediakan pakan ternaknya selama tiga bulan," tukasnya.

Sedangkan untuk budidaya sorgum, Disnakwan melihat bahwa sangat tepat memanfaatan lahan marjinal atau kritis. Selain itu modal awal untuk menanam sorgum tidak terlalu besar dan hanya berkisar Rp 4,1 juta per hektare, itu pun sampai panen.

"Dalam kondisi tanah terburuk pun, masih bisamenghasilkan 21 ton per 3 hektare, dengan harga Rp 450 per KG," ujarnya.

Sejauh ini, kata Hasanuddin, pihaknya telah memiliki 11 unit rumah produksi pakan ternak yang dikelola langsung oleh kelompok petani dan peternak di Situbondo. "Awalnya kita punya lima unit, dan ada tambahan enam unit lagi," bebernya.

Selama ini lahan marjinal untuk budidaya tanaman sorgum khusus pakan ternak, masih menunggu respon masyarakat. Karena sejak awal, budidaya sorgum di Situbondo baru dilakukan secara mandiri oleh para petani. "Lahan awal yang sudah siap sebanyak 150 hektare dan sekarang sudah berjalan," pungkasnya. ****

Penulis: Izi Hartono
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved