Breaking News:

Berita Surabaya

Tak Puas Kerja Sama Proyek Tambang, Christian Halim: Ini Perdata, Kami Siap Adu Fakta

Ada beberapa poin yang menurut kami tidak sesuai dengan formalitas surat dakwaan, sehinga kami putuskan untuk mengajukan keberatan atau eksepsi.

Samsul Arifin
Suasana sidang atas kasus dugaan penipuan di PN Surabaya. 

SURYA.CO.ID I SURABAYA - Kasus dugaan penipuan dan penggelapan dana proyek pertambangan nikel di Morowali, Sulawesi Tengah mulai disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Rabu (10/2/2021).

Sidang yang dipimpin hakim Tumpal Sagala SH, berlangsubg di ruang sidang Candra.

Agendanya pembacaan surat dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sabetania Paembonan SH.

"Perbuatan terdakwa Christian Halim sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 378 KUHP dan Pasal 372 KUHP," kata Sabetania saat membacakan surat dakwaan.

Atas dakwaan tersebut, Jaka Maulana dan Leo Defri selaku kuasa hukum terdakwa Christian Halim akan mengajukan eksepsi.

"Ada beberapa poin yang menurut kami tidak sesuai dengan formalitas surat dakwaan, sehinga kami putuskan untuk mengajukan keberatan atau eksepsi," kata Jaka Maulana saat dikonfirmasi usai persidangan.

Menurutnya, sikap keberatan melalui eksepsi itu akan dibacakan pada Senin (15/2/2021) bertujuan memberikan perspektif lain bagi majelis hakim untuk menyeimbangkan posisi kasusnya.

"Kalau dari dakwaan tadi jaksa jelas menyebutkan perkara ini adalah perdata yang tidak seharusnya diselesaikan melalui mekanisme pemeriksaan pidana, itu yang akan menjadi salah satu alasan keberatan kami," ungkap Jaka Maulana.

Namun demikian, Jaka mengaku tetap menghormati dakwaan jaksa dan mengikuti proses persidangan.

"Secara prinsip kami siap adu fakta soal perkara ini," tandasnya.

Dijelaskan dalam dakwaan jaksa, kasus ini dilaporkan oleh Christeven Mergonoto yang merasa tidak puas dengan bisnis kerja sama proyek tambang nikel tersebut.

Dalam perjalanannya, perjanjian kerja sama yang dilakukan secara lisan itu terjadi selisih nilai dari modal yang dikucurkan dengan hasil pengerjaan proyek.

Selisih nilai tersebut diperkirakan sebesar Rp 9,3 milliar lebih.

Penulis: Samsul Arifin
Editor: Anas Miftakhudin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved