Berita Banyuwangi

Rhenald Kasali Beberkan 'Okestrasi' Anas untuk Sejahterakan Banyuwangi; Pariwisata Jadi Pemicu

Pull strategy merupakan program yang menekankan pada penyelesaian masalah secara top down (dari atas ke bawah).

Penulis: Haorrahman | Editor: Deddy Humana
surya/haorrahman
Bupati Anas dalam bedah buku Prof Rhenald yang terbaru, ”Road To Prosperity: Mobilisasi dan Orkestrasi ala Banyuwangi”, secara daring, Rabu (3/1/2021). 

SURYA.CO.ID, BANYUWANGI - Pakar manajemen dan guru besar ekonomi Universitas Indonesia (UI), Profesor Rhenald Kasali, memaparkan strategi Pemkab Banyuwangi dalam mewujudkan prosperity (kesejahteraan) daerahnya.

Hal ini disampaikan dalam bedah buku Prof Rhenald yang terbaru, ”Road To Prosperity: Mobilisasi dan Orkestrasi ala Banyuwangi”, secara daring, Rabu (3/1/2021).

Menurut Rhenald, keberhasilan Banyuwangi dalam membangun kinerja sosial-ekonomi terletak pada upayanya menerapkan pull strategy (strategi menarik), bukan menggunakan push strategy (strategi mendorong).

Pull strategy merupakan program yang menekankan pada penyelesaian masalah secara top down (dari atas ke bawah). Seperti subsidi, bansos atau event-event nasional yang tidak berkesinambungan.

Sementara Push Strategy lebih menekankan penyelesaian permasalahan dengan melibatkan banyak pihak dan berangkat dari bawah. Sehingga bisa menciptakan ekosistem yang akan menarik prosperity itu sendiri.

Dua strategi tersebut, oleh Rhenald diumpamakan seperti orang yang ingin melihat binatang. Ada yang ingin melihat di kebun binatang, ada pula yang menyaksikan di alam liar.

Jika menaruh hewan di kebun binatang, maka harus menyiapkan kandang dan makanannya. Jika tak diberi makan, hewan itu akan mati kelaparan. Itulah pull strategy. Padahal sejatinya, hewan-hewan di kebun binatang itu memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.

Jika menggunakan push strategy, lanjut Rhenald, tidak perlu memberi makan hewan-hewan liar tersebut. Cukup menanam pohon, maka akan menjadi hutan yang akan dihuni oleh hewan-hewan tersebut.

Di sana, segala sumber daya akan muncul sendirinya. Pemandangan hewan tetap bisa dinikmati, tanpa harus repot menyiapkan kandang dan sebagainya.

“Apa yang dilakukan Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas di Banyuwangi selama ini, ibarat menanam pohon tersebut. Apa pohonnya? Pohonnya ya pariwisata. Masyarakat dipaksa bergerak di satu titik. Dari sana lantas muncul ekosistem untuk membangun prosperity Banyuwangi itu sendiri,” tegas founder Rumah Perubahan tersebut.

Dari pariwisata tersebut, ia menganalisa, menjadi payung untuk mewujudkan kesejahteraan. Yang mana kesejahteraan yang diinginkan di Banyuwangi meliputi kemudahan akses pendidikan, kemudahan mencari lapangan kerja, jaminan kesehatan, jaminan keamanan, dan kondisi sosial politik yang stabil.

Salah satu yang dicontohkan Rhenald adalah pengelolaan Bandara Banyuwangi. Banyak daerah yang ingin menghidupkan bandaranya dengan memberi subsidi maskapai penerbangan.

Namun di Banyuwangi tidak demikian. Banyuwangi justru mensubdi rakyat untuk membuat pertunjukan kolosal yang bisa mengundang wisatawan. “Contohnya Festival Gandrung Sewu. Acara ini melibatkan rakyat banyak, dan terbukti menarik banyak wisatawan dari luar kota,” ungkapnya.

Ada banyak contoh yang lain bagaimana Banyuwangi melakukan mobilisasi dan orkestrasi untuk membangun kesejahteraan sosial-ekonomi daerahnya.

Halaman
12
Sumber: Surya
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved