Breaking News:

Berita Gresik

PPKM Tahap Dua Jadi Pukulan pada Pelaku UMKM Gresik, Ada Yang Terpaksa Ngojek Online

aktifitas masyarakat di luar rumah terbatas termasuk pembukaan tempat-tempat usaha. Sehingga semakin sedikit orang membeli produk UMKM

surya/mochamad sugiyono
Ketua UMKM Eson Asli Arek Gresik (EAAG) Kabupaten Gresik M Sya'ban memproduksi kue kering pesanan untuk bertahan di masa pandemi, Selasa (26/1/2021). 

SURYA.CO.ID, GRESIK - Semakin terjepitnya keleluasan masyarakat akibat Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) tahap kedua, membuat para pelaku ekonomi kecil makin menjerit. Dengan menurunnya daya beli masyarakat akibat pandemi Covid-19, para pelaku UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) di Gresik ikut terpuruk.

Dengan adanya PPKM maka aktifitas masyarakat di luar rumah makin terbatas termasuk pembukaan tempat-tempat usaha. Sehingga semakin sedikit orang datang untuk membeli produk UMKM.

Ketua UMKM Eson Asli Arek Gresik (EAAG) Gresik, M Sya'ban mengatakan, selama pandemi sudah banyak derita yang dirasakan pelaku UMKM. Mulai pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tahun lalu, kemudian berganti menjadi PPKM, perputaran ekonomi pelaku usaha makanan ringan ikut terhenti.

"Apalagi sekarang banyak pekerja kantor dan lembaga pendidikan memberlakukan bekerja di rumah," kata Sya'ban kepada SURYA, Selasa (26/1/2021).

Selama PPKM tahap satu dan tahap dua, Pemkab Gresik juga memberlakukan jam malam bagi pedagang dan warung kopi. Yaitu mulai pukul 20.00 WIB sampai pukul 04.00 WIB.

Selama pandemi ini, Sya'ban memutuskan tetap berjualan roti basah dengan mengandalkan beberapa pelanggan. Sebab sekolah tempatnya berjualan tutup dan memberlakukan proses belajar mengajar secara daring.

"Mau berjualan apa lagi. Terpaksa banting setir. Terkadang jadi driver ojek online. UMKM sangat sulit memasarkarkan produk. Mau dijual kemana? Hanya pengusaha menengah ke atas yang masih bisa bertahan," kata Sya'ban.

Lebih lanjut, Sya'ban mengatakan, selama pandemi covid-19 ini tidak semua anggota UMKM EAAG mendapat bantuan dari pemerintah. Padahal mereka sudah menyerahkan peryaratan ke pemkab melalui Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan.

"Sampai saat ini saya tidak dapat bantuan Covid-19. Tetapi ada anggota UMKM EAAG yang mendapat bantuan," imbuhnya.

Sya'ban berharap, pemda bisa memberikan bantuan kepada UMKM yang betul-betul terdampak Covid-19. Sebab UMKM yang terdampak betul-betul terpuruk. Dan saat ini penghasilannya hanya cukup untuk makan sehari-hari.

Selain itu, diharapkan pemberlakuan jam malam dihapus dan lebih diperketat protokol kesehatannya. Sebab pelaku UMKM sudah taat aturan, tinggal kesadaran masyarakat yang perlu dipertketat oleh aparat. "Semoga pemda lebih peduli nasib UMKM," katanya. ***

Penulis: Sugiyono
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved