Rabu, 20 Mei 2026

Berita Banyuwangi

Kegigihan Bos Tahu Banyuwangi Pertahankan Puluhan Karyawan, Meski Didera Pandemi dan Harga Kedelai

Kelangkaan ini membuat harga kedelai naik di awal 2021, sehingga membuat Mahfud tidak memproduksi sebanyak biasanya.

Tayang:
Penulis: Haorrahman | Editor: Deddy Humana
Kegigihan Bos Tahu Banyuwangi Pertahankan Puluhan Karyawan, Meski Didera Pandemi dan Harga Kedelai - pengusaha-tahu-di-banyuwangi-bertahan1.jpg
surya/haorrahman
Industri tahu milik Ahmad Mahfud, asal Desa Alasbuluh, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi yang tidak tutup meski dihantam pandemi dan kenaikan harga kedelai.
Kegigihan Bos Tahu Banyuwangi Pertahankan Puluhan Karyawan, Meski Didera Pandemi dan Harga Kedelai - pengusaha-tahu-di-banyuwangi-bertahan-2.jpg
surya/haorrahman
Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas meninjau Industri tahu milik Ahmad Mahfud, asal Desa Alasbuluh, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, yang tidak tutup meski dihantam pandemi dan kenaikan harga kedelai.

SURYA.CO.ID, BANYUWANGI - Dampak pandemi Covid-19 dirasakan banyak pelaku ekonomi aktif, tetapi banyak yang berusaha bertahan di tengah derasnya tantangan. Kini ujian terberat adalah dampak pandemi Covid-19, dan kenaikan harga kedelai impor yang mencekik pengusaha tahu tempe.

Seperti cerita pemilik industri tahu asal Fesa Alasbuluh, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, bernama Ahmad Mahfud ini. Pejuang seperti Mahfud mungkin bisa disebut 'penyelamat kemanusiaan' karena tidak merumahkan para karyawannya meski produksi tahu menurun.

Mahfud mengatakan, pandemi Covid-19 memang membuat produksinya menurun. Biasanya setiap hari Mahfud bisa memproduksi 8 kuintal tahu. Tetapi selama pandemi pabriknya hanya memproduksi 6 kuintal.

Ditambah langkanya kedelai, juga turut andil menurunkan produksi. Kelangkaan ini membuat harga kedelai naik di awal 2021, sehingga membuat Mahfud tidak memproduksi sebanyak biasanya.

"Selama pandemi ini ditambah harga kedelai yang naik ikut berpengaruh pada produksi. Sekarang produksi sekitar 6-7 kuintal, tetapi Alhamdulillah tidak sampai merumahkan karyawan," kata Mahfud.

Meski situasi sedang sulit, Mahfud tidak mau merumahkan karyawannya karena mereka ikut berjasa membangun usahanya. ”Kami sudah jatuh bangun dalam membangun pabrik ini. Jadi pandemi ini kami anggap ujian. Kami berharap ujian ini segera berlalu,” harap Mahfud.

Mahfud bahkan masih mengingat bagaimana upayanya membesarkan pabrik tahunya itu. Berawal usaha berdua dengan sang istri pada 2020, kini pabrik tahu milik Mahfud telah berkembang hingga memiliki puluhan karyawan.

“Sebelumnya saya punya usaha penggilingan gabah, tetapi karena keterbatasan modal akhirnya berhenti. Dari teman yang memproduksi tahu, saya juga tertarik untuk belajar cara membuatnya dan memutuskan untuk produksi sendiri,” kisah Mahfud yang beberapa waktu lalu dikunjungi oleh Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas.

Tahu Wongsorejo merupakan salah satu jenis tahu yang paling digemari di Banyuwangi. Penamaan tahu ini berasal dari tempatnya diproduksi yakni wilayah Kecamatan Wongsorejo.

Meskipun bentuknya 'standar' alias sama dengan tahu umumnya namun banyak yang mengatakan bahwa tahu Wongsorejo lebih enak dan membuat ketagihan. Tahu inilah yang diproduksi Ahmad Mahfud di Desa Alasbuluh, Kecamatan wongsorejo.

Waktu pun bergulir, sampai akhirnya usaha tahu miliknya terus berkembang. Tahu ala Mahfud makin digemari oleh konsumen. Memasuki 2009 usahanya berkembang pesat di mana dalam sehari rata-rata memproduksi 8 kuintal tahu.

“Dan sejak saat itu kami memproduksi tahusetiap hari, tanpa ada hari libur dibantu 26 pegawai. Produk tahu dijual per ember seberat 4,9 KG dengan harga Rp 65.000 untuk partai besar, dan Rp 70.000 untuk eceran. Selain di Banyuwangi, tahu juga saya kirim ke Malang, Surabaya dan Pasuruan,” ujarnya.

Sukses dengan tahu, Mahfud mengembangkan sayap bisnisnya. Sejak 2008, Mahfud mulai beternak sapi satu ekor. Saat ini ia mampu mengembangkan usaha ternaknya hingga 500 ekor sapi dengan 12 karyawan. Penjualan sapi-sapi milik Mahfud sudah mencapai luar daerah, seperti ke Bogor, Cibinong dan Depok.

“Usaha tahu bareng dengan sapi ini sebenarnya menguntungkan. Karena ampas (sisa) tahu kami jadikan pakan sapi. Proteinnya tinggi sekali, sapi saya terkenal sehat. Bahkan ampas tahu kami sampai ke luar daerah,” katanya.

Sementara itu Bupati Anas terus mendukung warganya yang memiliki jiwa entrepreneurship. Anas mengatakan kegigihan Ahmad Mahfud dalam merinstis usaha hingga berkembang dan sukses, bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda di daerah.

“Keterbatasan jangan menjadi penghalang untuk mau bekerja dan berusaha. Contohnya Pak Mahfud, yang bersepeda motor untuk berjualan saja harus sewa. Sekarang sukses punya banyak usaha. Semangat pantang menyerah dalam kondisi apapun ini harus dimiliki oleh generasi muda,” pungkas Anas. ***

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved