Breaking News:
Grahadi

Pemprov Jatim

Genjot Investasi di Awal Tahun, Gubernur Khofifah Yakinkan Jawa Timur Efisien dan Menguntungkan

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa meyakinkan, bahwa Jawa Timur memiliki keunggulan daya tarik yang besar untuk investor.

SURYA.CO.ID/Fatimatuz Zahro
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. 

SURYA.CO.ID, SURABAYA – Momen awal tahun dijadikan sebagai waktu yang tepat untuk menggaet investor. Untuk itu Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa meyakinkan, bahwa Jawa Timur memiliki keunggulan daya tarik yang besar untuk investor.

Terutama ia meyakinkan, bahwa Jatim memiliki efiesiensi yang tinggi dan juga menguntungkan bagi investor yang ingin menanamkan modal untuk berusaha.

Hal itu dibuktikan dengan tingkat Incremental Capital-Output Ratio (ICOR) Jatim yang rendah. Bahkan lebih rendah dibandingkan dengan ICOR di daerah-daerah lain di Indonesia.

"ICOR Jatim selalu lebih rendah, sekarang kita di posisi 5,2. Angka ini lebih rendah dibanding ICOR rata-rata nasional 6,81 dan beberapa daerah lain, seperti DKI Jakarta 7,57, kemudian Banten 5,81 dan Jawa Tengah 5,83," kata Khofifah, Sabtu (23/1/2021).

"Ini menunjukkan bahwa berinvestasi di Jatim lebih efisien daripada rata-rata berinvestasi di Indonesia,” tambahnya.

Lebih lanjut, mantan Menteri Sosial ini menuturkan, bahwa ICOR merupakan parameter ekonomi makro yang menggambarkan rasio investasi kapital terhadap hasil yang diperoleh dengan menggunakan investasi tersebut.

Besaran ICOR ini juga merupakan proxy efisiensi sebuah perekonomian. Semakin rendah nilai ICOR, mengindikasikan semakin tinggi produktivitas kapital.

Angka ICOR yang rendah bukan hanya di tahun ini. Namun di tahun 2019, ICOR Jatim sebesar 5,25 angka ini juga lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional 6,87.

"Untuk meningkatkan 1 unit output di Jawa Timur, diperlukan investasi fisik sebesar 5,25. Jelas Jatim menawarkan efisiensi yang lebih tinggi, sekaligus menjanjikan imbal balik yang lebih menguntungkan,” tegasnya.

Dalam rentang lima tahun terakhir, realisasi investasi Jatim mengalami dinamika. Dan khusus pada dua tahun terakhir sejak Jatim dipimpin Gubernur Khofifah, realisasi investasi terus terdongkrak naik, setelah dua tahun sebelumnya mengalami perlambatan.

Bahkan, pada periode Januari sampai dengan September 2020, realisasi investasi Jatim telah melampaui capaian tahun sebelumnya, yakni sebesar Rp 66,5 triliun. Sedangkan di tahun 2019 sebesar Rp 58,4 triliun.

"Dari sisi pertumbuhan, total investasi Jatim naik 42,1%. Ini adalah yang tertinggi di Jawa, yang sebagian besar justru tumbuh negatif," katanya.

Secara komposisi, investasi Jatim terutama ditopang oleh Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Diakui oleh Gubernur Khofifah, PMDN memang menjadi backbone investasi di Jatim.

"Realisasi PMDN kita selalu yang tertinggi dibanding provinsi-provinsi lain," imbuhnya.

Pada periode Januari-September 2020, tiga sektor unggulan PMDN di Jatim meliputi sektor Transportasi, Gudang dan Telekomunikasi sebesar Rp 23,34 triliun.

Sektor Perumahan, Kawasan Industri dan Perkantoran sebesar Rp 4,37 triliun.

Sektor Industri Makanan sebesar Rp 3,68 triliun yang tersebar di lokasi wilayah seperti Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Pasuruan, dan Probolinggo serta beberapa lokasi lainnya.

Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved