Jumat, 17 April 2026

Berita Kediri

Kisah Mantan Kades Sumbercangkring Kediri Manfaatkan Bambu Liar Jadi Produk Bernilai Jual Tinggi

Hasil kreasi dari Mujiana kini sudah diminati konsumen di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Bali.

Penulis: Farid Mukarrom | Editor: Titis Jati Permata
surya.co.id/farid mukarrom
Mujiana, warga Desa Sumbercangkring Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri saat menunjukkan hasil kreasi bambunya. 

SURYA.CO.ID, KEDIRI – Mujiana mantan Kepala Desa Sumbercangkring Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri manfaatkan bambu di desanya menjadi hasil anyaman dan mebel bernilai jual tinggi.

Ide awal Mujiana, setelah melihat banyaknya bambu liar yang menumpuk seperti sampah tak dipakai saat ia masih menjabat sebagai Kepala Desa.

Namun di tangan Mujiana, asal Desa Sumbercangkring, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, bambu ini mampu diolah menjadi aneka mebel, gazebo, serta aneka anyaman yang eksotis.

Hasil kreasi dari Mujiana kini sudah diminati konsumen di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Bali.

Kepada SURYA.co.id Mujiana mengaku baru memulai usahanya ini sejak tahun 2015.

“Kalau anyaman yang saya hasilkan ini ada tempat makan, tudung saji, lampion dan merambah ke mebel,” tuturnya.

Baca juga: Pencanangan Vaksinasi Covid-19 di Kota Surabaya, Pejabat Forkopimda Disuntik Lebih Dulu

Baca juga: Live Streaming TVRI Badminton Thailand Open 2021 Hari ini Jumat 15 Januari 2021 dan Jadwalnya

Baca juga: RS Mitra Manakarra Mamuju ambruk, Nyaris Rata dengan Tanah, 6 Orang Terjebak

Dalam waktu satu bulan Mujiana menghasilkan 4 set mebel meja kursi, dibantu satu orang karyawan.

"Produknya beragam, mulai dari tempat buah, tudung hidang, lampion, bahkan saya juga menerima pesanan pembuatan rumah dari bambu, maupun rumah makan," jelasnya.

Kendala yang dihadapi Mujiana adalah tenaga yang membantunya, sehingga ia tak bisa memproduksi dengan banyak dan cepat.

“Jualan ini sudah merambah luar daerah provinsi, hanya kendala tenaga produksinya. Saya melatih 60 orang, namun yang jadi hanya 3 orang. Saya juga melatih ibu-ibu sekitar tapi untuk ringan–ringan saja seperti membuat anyaman bambu yang dikerjakan di rumahnya,” imbuh Mujiana.

Mujiana selalu menjaga kualitas hasil produk mebel bambunya agar awet bisa digunakan selama hingga 15 tahun.

"Bambunya direndam dengan air khusus selama beberapa hari kemudian dikeringkan agar tidak mudah dimakan rayap. Setelah direndam bambu yang siap dipakai langsung dipotong sesuai ukuran untuk aneka jenis mebel,” bebernya.

Dalam pembuatan mebelnya Mujiana tak pernah menggunakan paku namun hanya direkatkan dengan tali rotan.

Kemudian untuk harga kreasi kerajinan anyaman dari bambu Mujiana dibandrol mulai dari Rp 2.000 rupiah hingga Rp 400.000.

“Kalau untuk harga mebel mulai dari Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta, Gazebo dipatok harga Rp 4 juta dengan kapasitas 4 hingga 6 orang, dan untuk harga rumah makan menyesuaikan ukuran,” tuturnya.

Mujiana berharap ke depan ia bisa menggerakkan masyarakat Desa Sumbercangkring untuk membantu membangun usaha bambunya.

“Saya punya lahan hampir satu hektar ini semuanya nanti akan diolah menjadi pusat kerajinan bambu Desa Sumbercangkring. Namun memang harus sabar mengajari warga sini untuk mau belajar dan membuat anyaman bambu dan mebel,” pungkasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved