Breaking News:

Berita Lamongan

Dibandingkan 10 Tahun Silam, Penanganan Banjir di Lamongan Sudah Lebih Baik

Mulai perbaikan infrastruktur Bengawan Jero, pengadaan pompa banjir, hingga backhoe amphibi untuk membersihkan eceng gondok

surya/hanif manshuri
Bupati Lamongan dan anggota Forkopimda berkeliling naik motor untuk meninjau banjir dan Lak Kuro, Rabu (13/1/2021). 

SURYA.CO.ID, LAMONGAN - Ketidakhadiran Bupati Lamongan di tengah unjuk rasa yang memprotes banjir, Rabu (13/1/2021), bukannya karena bersembunyi. Sebaliknya, karena Bupati Fadeli bersama jajaran Forkopimda Lamongan sedang berkeliling untuk menemukan solusi memecahkan bencana banjir di wilayahnya itu.

Fadeli bersama kapolres dan dandim setempat bersama naik motor trail sampai ke Luk Kuro di Bengawan Jero. Peninjauan langsung ke lokasi bencana itu dilakukan agar menemukan cara mengurangi genangan air.

Mulai perbaikan infrastruktur Bengawan Jero, pengadaan pompa banjir, hingga penggunaan backhoe amphibi untuk membersihkan tanaman eceng gondok.

Menurut Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemkab Lamongan, Moh Nalikan, melalui berbagai upaya, penanganan banjir di Lamongan sebenarnya sudah lebih baik dibandingkan 10 tahun lalu.

"Kalau 10 tahun yang lalu, genangan di Bengawan Jero bisa berbulan-bulan. Saat ini ada berbagai upaya pembangunan infrastruktur Bengawan Jero," kata Nalikan.

Mulai pengadaan pompa banjir, usaha memperlancar pembuangan ke laut dengan penggunaan backhoe amphibi untuk mempercepat pembersihan eceng gondok, genangan dapat dikurangi,” tambahnya kepada SURYA.

Nalikan menambahkan, saat ini empat pintu di Wangen telah dibuka secara maksimal, sehingga dapat mempercepat pembuangan air ke laut. Sebelumnya empat pintu ini sempat terkendala masalah teknis sehingga tidak semuanya dibuka.

Selain itu juga telah disiapkan 19 pompa banjir dengan rincian 3 unit pompa dengan kapasitas 500 liter per detik dan 2 unit pompa dengan kapasitas 125 liter per detik di UPT Babat.

Juga ada 2 unit pompa kapasitas 1.000 liter per detik, 8 pompa kapasitas 500 liter per detik, dan 2 unit pompa kapasitas 250 liter per detik di UPT Kuro, ditambah 2 unit pompa dengan kapasitas 250 liter per detik di UPT Deket.

Di samping itu, komunikasi dan lobi intens kepada pemerintah pusat juga telah dilakukan. Sehingga terbit Peraturan Presiden Nomor 80 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi di Kawasan Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan, Kawasan Bromo – Tengger – Semeru, serta Kawasan Selingkar Wilis dan Lintas Selatan.

“Perpres ini salah satunya memberikan prioritas pembangunan penuntasan banjir di Bengawan Jero, namun karena adanya pandemi, realisasi pembangunannya tertunda,” katanya.

Pemkab Lamongan sudah menyalurkan 15 ton bantuan beras secara bertahap kepada masyarakat terdampak banjir. Selain itu, bakti sosial kesehatan gratis sudah dibuka di setiap desa terdampak di enam kecamatan.

Wilayah Lamongan dapat dikatakan srentan banjir, karena secara topografis sebagian wilayah Lamongan merupakan daerah rawa yang lebih rendah dari rata-rata permukaan air laut. Karena itu, dapat dikatakan bahwa banjir di Lamongan merupakan banjir kiriman.

Selain itu, perubahan lingkungan dan tatanan hidrologis di sekitar aliran Sungai Bengawan Solo, serta penumpukan tanaman eceng gondok juga menjadi faktor terendamnya beberapa wilayah di Lamongan.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga telah memprediksi adanya curah hujan tinggi di Indonesia sebagai akibat dari fenomena La Nina. Sejak Oktober 2020, BMKG telah memprediksi bahwa puncak musim hujan akan terjadi pada Januari hingga Februari 2021. ****

Penulis: Hanif Manshuri
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved