Misteri Hilangnya Jack Ma Usai Kritik Kebijakan China, Aktivis: Kemungkinan Dipenjara atau Dibunuh

Seorang aktivis yang diasingkan di Hongkong memprediksi "akhir riwayat" sang miliarder itu apakah akan berakhir di penjara atau mati.

Editor: Suyanto
businessweek
Jack Ma Dikabarkan hilang setelah mengkritik pemerintah China. Berikut profil dan biodata miliarder Tiongkok tersebut. 

SURYA.co.id I BEIJING - Misteri hilangnya miliarder Jack Ma masih menjadi perhatian dunia.

Jack Ma merupakan pendiri Alibaba dan Ant Group.

Seorang aktivis yang diasingkan di Hongkong memprediksi "akhir riwayat" sang miliarder itu apakah akan berakhir di penjara atau mati.

Jack Ma dilaporkan tidak terlihat di publik sejak dua bulan lalu, termasuk tidak menghadiri acara final TV show-nya sendiri, Africa's Business Heroes.

Orang terkaya nomor 25 versi Bloomberg's Billionaires Index ini diduga hilang setelah memberikan kritik terhadap Pemerintah China.

Kritiknya itu dia sampaikan pada Oktober lalu di Shanghai.

Jack Ma mengkritik aturan perbankan di China yang dia samakan seperti pegadaian.

Untuk itu, Ma menginginkan adanya perubahan atau reformasi.

Di tengah ramainya isu Jackk Ma hilang, beredar sebuah video lama, tentang tindakan pemerincah China terhadap pengkritiknya.

Melansir Newsweek, video tersebut diunggah 11 September 2019 di Twitter.

Isinya tentang percakapan antara miliarder China yang diasingkan, Guo Wengui (Miles Kwok), dengan Direktur Investasi Hayman Capital Management, Kyle Bass.

Di dalam video itu, Jack Ma diprediksi oleh Miles Kwok hanya akan mengalami dua akhir hidup.

"Hanya ada dua cara (akhir) bagi miliarder di China, dia dipenjara atau mati," ungkap Kwok dikutip dari Real Vision.

Jika memang benar pendiri Alibaba itu menghilang karena kritiknya terhadap pemerintah sehingga menyebabkan dia harus mendekam di penjara atau dibunuh maka prediksi dua tahun lalu itu bisa dibilang benar.

Miles Kwok sendiri, orang yang memprediksi akhir hidup Jack Ma, adalah seorang pebisnis China yang diasingkan dan menjadi aktivis politik.

Dia menguasai Beijing Zenith Holdings dan aset lainnya.

Sumber: Kompas.com
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved