Breaking News:

Ketergantungan Impor Jadi Penyebab Utama Harga Kedelai di Jatim Melambung Tinggi

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim, Hadi Sulistyo mengatakan, naiknya harga kedelai di Jatim karena mengalami kondisi defisit.

Penulis: Fikri Firmansyah
Editor: Cak Sur
SURYA.CO.ID/Ahmad Zaimul Haq
Karyawan pabrik tahu UD Sumber Kencana, Surabaya, sedang mengolah kedelai untuk dijadikan tahu. 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Naiknya harga kedelai di sejumlah daerah, termasuk Jawa Timur, telah membuat banyak para produsen tahu dan tempe memilih untuk berhenti beroperasi sementara.

Sekalipun masih ada yang beroperasi, para produsen tempe dan tahu tetap menyayangkan harga kedelai yang mencapai Rp 9.000 per kilogram.

Misalnya pabrik tahu tertua asal Surabaya, yakni UD Sumber Kencana.

"Tentu saya menyayangkan naiknya harga kedelai ini, karena selama saya berjualan, mentok itu harga kedelai paling mahal yang perna saya temui hanya Rp 8.000 per kilogramnya, kalau sudah sampai 9.000 seperti saat ini pemerintah harus cepat turun tangan, karena tahu dan tempe adalah lauk pauk utama masyarakat dengan harga yang paling ramah di kantong," ungkap pemilik sekaligus pengelola UD Sumber Kencana, Riani, Selasa (5/1/2021).

Menanggapi harga kedelai Jatim yang mahal itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim, Hadi Sulistyo mengatakan, naiknya harga kedelai di Jatim karena mengalami kondisi defisit.

"Poduksi kedelai di Jatim pada 2020 tercatat hanya 57.235 ton, sedangkan di sisi lain tingkat konsumsinya mencapai 447.912 ton. Sehingga defisit atau kekurangan sebesar 390.677 ton," ujar Hadi saat dikonfirmasi SURYA.CO.ID di Surabaya, Selasa (5/1/2021).

Hadi menjelaskan, defisitnya kedelai Jatim disebabkan karena banyak hal.

Jika dari sisi impor, kata Hadi, dari catatan Bloomberg, kondisi cuaca kering di Amerika sebagai produsen kedelai terbesar telah menjadi faktor utama proyeksi kenaikan harga kedelai.

Hal itu juga seiring dengan kondisi kekeringan yang dapat memberi tekanan produksi dan pasokan.

Sementara dari sisi produksi sendiri, banyak petani yang memilih tidak menanam kedelai karena banyaknya kedelai impor selama ini yang harganya jauh lebih murah.

"Dengan banyaknya kedelai impor yang harganya lebih murah, petani memilih untuk tidak menanam kedelai. Padahal, harga acuan berdasarkan Permendag Noor 27/M-DAG/PER/5/2017 tentang penetapan harga acuan pembelian di petani untuk kedelai Rp 8.500/kg. Namun, pada awalnya harga jual kedelai di lapangan sekitar Rp 6.500 hingga Rp 7.000/kg dan harga ini salah satunya dipengaruhi oleh mutu yang kurang baik, ukuran biji kedelai yang beragam dan tercampur varietas lain, di samping produktivitas kedelai di lahan kering sangat rendah baru berkisar antara 1-1,5 t/ha," jelasnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved