Breaking News:

Advertorial

Merajut Asa dari Pandemi yang Melanda, Tyas Rajut Mengubah Kemelut Menjadi Peluang

Kondisi harus tetap bertahan, memaksa Endang berinovasi. Wanita ini cari akal untuk bisa membuat produk yang tetap bisa digandrungi orang-orang.

SURYA.CO.ID/Tony Hermawan
Endang Dyah Kusumaningtias saat menunjukkan konektor masker dan beberapa produk lain dari hasil rajutan. 

SURYA.CO.ID, LUMAJANG - Tangan Endang Dyah Kusumaningtias terlihat begitu terampil merajut benang.

Empat tahun bergelut bisnis merajut, sudah banyak pengalamannya membuat aneka produk fashion. Mulai dari tas, syal, sepatu, topi atau bungkus tumbler sudah pernah ia kerjakan.

Di luar Lumajang, bisnis 'Tyas Rajut' lumayan mulai dikenal. Utamanya para pecinta rajutan.

Sayangnya, di awal Tahun 2020 dunia mulai bergumul dengan pandemi virus Corona atua Covid-19.

Kala itu, pandemi membuat Endang harus melambatkan kecepatan tangan melilit benang karena pesanan rajutan merosot 50 persen.

"Harga produk rajutan kan gak murah, terus produk saya juga bukan termasuk kebutuhan utama. Itu sangat terasa penurunan omzetnya," kata Endang, saat ditemui di rumahnya, Perumahan Wonorejo, Blok M9, Jumat (11/12/2020).

Kondisi harus tetap bertahan, memaksa Endang berinovasi. Wanita ini cari akal untuk bisa membuat produk yang tetap bisa digandrungi orang-orang.

Hingga akhirnya, ia membaca celah anjuran pemerintah mewajibkan menggunakan masker saat beraktifis di luar rumah, demi memutus tali penyebaran virus Corona.

Endang berkreasi membuat konektor masker yang menjadi tren di kalangan Hijaber.

"Saya perhatikan para hijaber itu kan kesulitan kalau pakai masker dengan tali yang dicantolkan di daun telinga. Kemudian, masker bertali melingkar di belakang kepala itu menginspirasi saya bikin konektor dari rajutan," ujarnya.

Usai konektor masker rajutan itu jadi, ia memaksimalkan market place untuk mencari sasaran konsumennya. Melalui media sosial di Instagram, dengan akun @tyasferdian5 produknya ditampilkan dengan foto-foto yang menarik. Jurus ini rupanya jitu menembus pasar.

Terlebih dengan harga terjangkau, antara Rp 10.000 - 25.000, konektor masker rajutan buatan Endang berkali-kali diborong konsumen dari luar daerah.

"Bulan kemarin saja saya kirim 100 konektor ke Tuban. Jadi memang alhamdulillah ramai dan bikinnya juga lebih cepat daripada bikin tas yang butuh waktu 3-7 hari," terangnya.

Bagi Endang, Covid-19 memang menghadirkan kemelut. Namun, jika jeli membaca situasi masih banyak peluang yang bisa dibidik agar geliat usaha bisa tetap terjaga.

"Kuncinya harus jeli biar bisa menjawab kebutuhan pasar," pungkasnya.

Penulis: Tony Hermawan
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved