Breaking News:

Manuver Irjen Napoleon Bonaparte Catut Kabareskrim dan Wakil Ketua DPR, Pihak Tommy Sumardi Membalas

Perseteruan Irjen Napoleon Bonaparte dan Tommy Sumardi kian panas. Nama Kabareskrim dicatut hingga wakil ketua DPR RI.

tribunnews
Irjen Napoleon Bonaparte dan Tommy Sumardi yang konfliknya kian panas. Terbaru, Irjen Napoleon Bonaparte menyebut Tommy Sumardi dekat dengan Kabareskrim dan Wakil Ketua DPR RI. 

Menurut dia, pernyataan Napoleon tersebut tidak pernah ada dalam berita acara pemeriksaan (BAP).

“Anehnya, di BAP, dia tidak pernah bicara soal nama Kabareskrim dan Aziz Syamsuddin,” ucapnya.

Menurut Dion, apa yang dilakukan Napoleon adalah modus yang umum dilakukan terdakwa, yakni sebuah upaya menggiring opini.

"Silakan penilaian tabiat terdakwa.

Dia tidak mengakui perbuatannya, soal surat ke Imigrasi, hapus pemberitahuan merah Joko Tjandra, keterangannya berbeda dengan bawahannya, "kata dia.

"Pertemuan bersama dengan Tommy Sumardi dia menyangkal waktunya sehingga berbeda dengan keterangan dua sesprinya sendiri, berbeda juga dengan bukti elektronik berupa WhatsApp-nya sendiri yang mengonfirmasi pertemuan, tidak bisa dipercaya apa enggak orang macam itu," ujar Dion.

Sebut Tommy Sumardi Rekayasa Kasusnya

Napoleon Bonaparte blak-blakan menyebut kasusnya direkayasa. Kepentingannya lebih besar dari bursa calon kapolri.
Napoleon Bonaparte blak-blakan menyebut kasusnya direkayasa. Kepentingannya lebih besar dari bursa calon kapolri. (Youtube Kompas TV)

Sebelumnya, Irjen Napoleon Bonaparte menuding Tommy Sumardi merekayasa kasusnya.

Rekayasa kasusnya ini untuk menutupi tindakan pidana yang terjadi sebelumnya. 

Pernyataan mengejutkan Mantan Kepala Divisi Hubungan Internasional Polri Irjen Napoleon Bonaparte itu diucapkan dalam wawancana eksklusif bersama Aiman Witjaksono yang tayang di Kompas TV, Senin (23/11/2020). 

Awalnya Aiman bertanya tentang tuduhan Napoleon Bonaparte menerima uang Rp 6 miliar dari Djoko Tjandra

"Itu tuduhan rekayasa yang dibuat oleh Tommy Sumardi. Tugas dialah yang harus membuktikan apa itu benar. Mari kita lihat di pengadilan, apa buktinya. Kita nanti bisa lihat keganjilan - keganjilan yang dia buat, termasuk fakta - fakta yang akan terungkap.

Napoleon pun menyebut ada dalang dalam kasusnya.

"Siapa sih orang yang mau mengorbankan dirinya sendiri untuk masuk penjara. Hanya untuk menjatuhkan seorang Napoleon. Padahal dia tidak punya hubungan, (tidak) kenal pribadi dengan saya. Dari situ saja itu sudah tercium. Ia bukan orang yang dirugikan. Pasti kan ada dalangnya. Ada kepentingan yang lebih besar daripada saya."

Napoleon pun merasa sengaja dikorbankan untuk itu. 

"Ya, saya kecewa," katanya. 

Ketika ditanya apakah ini semua terkait bursa calon Kapolri yang baru?

Napoleon mengatakan mungkin saja. 

"Mungkin bisa lebih dari itu," katanya. 

Pernyataan Napoleon ini kembali diminta penegasannya oleh Aiman. 

Akhirnya Napoleon menyebutkan jika rekayasan kasusnya untuk menutupi hal yang lebih besar. 

"Untuk menutupi suatu perbuatan pidana," tegasnya. 

"Apakah itu terjadi tahun sebelumnya?," tanya Aiman. 

Napoleon pun mengatakan tentu saja. 

Hanya saja saat diminta menguraikan hal itu, jenderal bintang dua ini memilih menutupnya rapat. 

"Kita akan melihat kesaksian-kesaksian orang itu semua di pengadilan," janjinya.

Lihat video: 

Menanggapi hal ini, Dion pongkor, kuasa hukum Tommy Sumardi balik mempertanyakan kepentinan klinennya merekayasa perkara Napoleon. 

"Kalau merekayasa, apa kepentngan pak tommy merekayasa kasus.

Tidak ada hubungan bisnis dan jabatan, malah baru dikenal

Untuk apa merekayasa? meresikokan diri," kata Dion Pongkor di acra Mata Najwa beberapa waktu lalu  

Menurut Dion, Tommy Sumardi bukan orang yang tak punya pekerjaan.

"Beliau seorang bussinesman yang hidup nyaman, punya keluarga. Buat apa merekayasa perkara yang membuatnya ikut terjerat," kata Dion.

Seperti diketahui, ada empat terdakwa dalam kasus penghapusan red notice Djoko Tjandra Djoko Tjandra didakwa menyuap dua jenderal polisi yakni Irjen Napoleon Bonaparte dan Brigjen (Pol) Prasetijo Utomo.

Sementara itu, Tommy Sumardi didakwa menjadi perantara suap dari Djoko Tjandra kepada dua jenderal polisi tersebut.

Untuk Irjen Napoleon, ia didakwa menerima uang dari Djoko Tjandra sebesar 200.000 dollar Singapura dan 270.000 dollar Amerika Serikat atau Rp 6,1 miliar.

JPU mendakwa Prasetijo menerima uang sebesar 150.000 dollar AS atau sekitar Rp 2,2 miliar dalam kasus tersebut.

Menurut JPU, atas berbagai surat yang diterbitkan atas perintah Napoleon, pihak Imigrasi menghapus nama Djoko Tjandra dari daftar pencarian orang (DPO).

Djoko Tjandra yang merupakan narapidana kasus Bank Bali itu pun bisa masuk ke Indonesia dan mengajukan PK ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Juni 2020 meski diburu kejaksaan.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kuasa Hukum Tommy Sumardi Bantah Kliennya Bawa Nama Kabareskrim dan Aziz Syamsuddin"

Editor: Musahadah
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved