Breaking News:

Pilbup Sidoarjo

Kelana – Astutik: Perlu Langkah Terobosan Atasi Banjir di Sidoarjo

Pasangan calon bupati dan wakil bupati Kelana Aprilianto dan Dwi Astutik mengaku telah memetakan persoalan banjir di Sidoarjo

Editor: Adrianus Adhi
SURYA.co.id
Calon Bupati Sidoarjo Kelana Aprilianto saat menyambangi warga 

SURYA.co.id, Sidoarjo - Banjir memang menjadi persoalan klasik yang dihadapi Kabupaten Sidoarjo. Sejumlah wilayah di Kabupaten Delta menjadi langganan banjir tahunan, bahkan berlangsung cukup lama.

Tidak salah bila masyarakat Sidoarjo sangat berharap pemimpin Sidoarjo ke depan, yang terpilih melalui pilkada 9 Desember mendatang, bisa mengatasi masalah banjir.

Pasangan calon bupati dan wakil bupati Kelana Aprilianto dan Dwi Astutik mengaku telah memetakan persoalan banjir di Sidoarjo, sekaligus menyiapkan solusi yang dieksekusi apabila mendapatkan amanah dari masyarakat Sidoarjo.

"Masalah banjir di Sidoarjo tidak bisa diselesaikan dengan cara biasa. Perlu langkah terobosan untuk bisa menuntaskannya”, tegas Kelana di Sidoarjo, Minggu (22/11/2020).

Persoalan banjir di wilayah Sidoarjo memang terbilang kompleks. Di Desa Kedungbanteng dan Banjarsari, berdasarkan temuan tim ahlli ITS 2016 lalu, banjir terjadi karena adanya penurunan permukaan tanah sekitar 8 sentimeter. Akibatnya, kedua desa tergenang banjir setinggi 40 sentimeter selama hampir dua bulan.

Sementara di wilayah pesisir, banjir terjadi karena alih fungsi lahan. Banyak tambak yang diubah menjadi hunian. Namun yang paling kasat mata, banjir di Sidoarjo terjadi karena sungai-sungai yang ada tidak mampu menyerap dan mengalirkan air yang diterima.

Hal ini terjadi karena sungai di Sidoarjo mengalami penyempitan sekaligus pendangkalan. Banyak bangunan liar di sepanjang bantaran sungai serta sampah yang dibuang ke sungai, sehingga daya tampung berkurang dan kelancaran air terganggu.

Menurut Kelana, normalisasi merupakan pilihan logis yang harus dilakukan. Caranya, melebarkan sungai dengan menertibkan bangunan-bangunan liar yang ada di bantaran sungai. Kelana tidak menutup mata, banyak bangunan di bantaran sungai yang memiliki sertifikat.

"Bisa lah kita bicarakan. Toh ini untuk kepentingan yang lebih luas, kepentingan masyarakat Sidoarjo”, jelas Kelana.

Normalisasi akan dilakukan di sungai-sungai utama, seperti Sungai Brantas, Butung, Sidokare dan Ketapang.
Sejalan dengan normalisasi sungai, Kelana juga akan membangun dam atau embung di daerah-daerah yang membutuhkan. Dam berfungsi tidak hanya sebagi penampung air, tetapi juga pengatur air.

Untuk itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan pemerintah pusat maupun provinsi, karena anggaran pembangunan dam atau embung cukup mahal, sekitar Rp 250 miliar untuk satu dam

"Pokoknya, segala upaya akan kami ikhtiarkan agar Sidoarjo bebas dari banjir’, pungkas Kelana. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved