Breaking News:

Berita Jember

Klaim Biaya Perawatan Covid-19 Molor, Ratusan Nakes Belum Terbayar, Pemerintah Dituding 'PHP'

Molor di sini, karena klaim untuk pencairan biaya perawatan Covid-19 itu belum dibayarkan 100 persen.

Dinas Kominfo Jember
Kakek Sibawi, salah satu pasien sembuh dari Corona di Jember saat keluar dari ruangan isolasi khusus di RSD dr Soebandi Jember. 

SURYA.CO.ID, JEMBER - Adanya proses audit sesuai pedoman revisi kelima tentang penangangan Covid-19, berdampak molornya pencairan biaya perawatan pasien Covid-19 di sejumlah rumah sakit (RS) rujukan, termasuk di Jember.

Molor di sini, karena klaim untuk pencairan biaya perawatan Covid-19 itu belum dibayarkan 100 persen. Bahkan ada rumah sakit di Jember yang belum menerima biaya pergantian perawatan sama sekali.

Ironisnya, padahal dalam komponen klaim tersebut ada biaya jasa pelayanan atau honor untuk tenaga kesehatan (nakes). Itu tentu berakibat pada belum terbayarnya honor untuk ratusan nakes di RS rujukan Covid-19.

Tidak aneh, ketika pejabat di sebuah rumah sakit di Jember nyeletuk, bahwa pemerintah pusat mem-PHP alias 'memberi harapan palsu' tenaga kesehatan.

Wakil Direktur Sumber Daya Manusia dan Pendidikan RSD dr Soebandi Jember, drg Arief Setiyoargo mengatakan, pihaknya mengirimkan klaim biaya perawatan pasien Covid-19 sebesar Rp 23 miliar.

"Yang sudah cair atau dibayarkan sebesar Rp 11 miliar. Sisanya menunggu audit, karena sekarang ada pedoman revisi kelima tentang penanganan Covid-19," ujar Arief, Kamis (19/11/2020).

Arief mengakui, kekurangan Rp 12 miliar yang belum cair merupakan jumlah besar bagi rumah sakit milik Pemkab Jember itu. Arief berharap, sisa klaim tersebut bisa lolos audit dan dibayarkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Sedangkan klaim dari RSD Kalisat sebesar Rp 2 miliar malah belum dibayarkan sama sekali. "Ada klaim sebesar Rp 2 miliar untuk biaya perawatan pasien Covid-19 dari RSD Kalisat. Tetapi sampai sekarang, saru rupiah pun belum cair," ujar Direktur RSD Kalisat, drg Kunin Nasihah.

Padahal dalam komponen klaim biaya perawatan itu, lanjutnya, ada biaya honor nakes atau jasa pelayanan untuk tenaga kesehatan. "Ada honor untuk para nakes. Dan akhirnya belum dibayarkan juga, khusus untuk perawatan Covid-19 ini," imbuhnya.

Pihak RS sementara ini mengeluarkan biaya perawatan, seperti untuk obat dan ruangan, memakai biaya operasional rumah sakit itu. Hal itu, diakui Arief dan Kunin, mengganggu 'cash-flow' rumah sakit daerah tersebut.

"Meski begitu, pelayanan tetap dilakukan. Kami juga akan menambah ruangan khusus Covid-19 tahun depan, supaya perawatan lebih maksimal," tegas Kunin. ****

Penulis: Sri Wahyunik
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved