Breaking News:

Berita Jember

Kasus Positif Covid-19 Meningkat, Pelanggar Prokes di Jember Bakal Didenda

Namun melihat terus tingginya,kasus positif baru Covid-19 di Jember beberapa hari terakhir, tidak menutup kemungkinan denda akan diterapkan

ist
poster persebaran Covid-19 di Jember per 20 November 2020 

SURYA.CO.ID, JEMBER - Sikap tidak acuh warga Jember, khususnya atas pentingnya penerapan protokol kesehatan (prokes), membuat kasus positif Covid-19 meningkat selama tiga pekan terakhir. Hal ini menjadi alasan Satgas Penanganan Covid-19 Jember untuk memberi sanksi lebhi tegas, yaitu rencana memberlakukan denda.

Denda bagi pelanggar prokes itu disampaikan Plt Bupati Jember, KH Abdul Muqit Arief, meski ia belum memastikan kapan akan diterapkan. Namun melihat terus tingginya,kasus positif baru Covid-19 di Jember beberapa hari terakhir, tidak menutup kemungkinan denda akan diterapkan.

Kiai Muqit mengakui, perkembangan persebaran angka Covid-19 di Jember beberapa hari terakhir makin mengkhawatirkan. "Karenanya kami melakukan evaluasi, termasuk bertemu para tokoh agama di Jember. Pertemuan ini dalam rangka evaluasi penanganan Covid-19," ujar Kiai Muqit, Jumat (20/11/2020) sore.

Pengasuh Ponpes Al-Falah, Silo itu mengakui selama ini tidak ada denda uang saat Operasi Yustisi penegakan prokes di Jember. Tidak adanya denda uang itu rupanya membuat abai masyarakat.

"Selama ini sanksinya hanya sanksi sosial. Dan ternyata dari sisi kesadaran masyarakat, tidak begitu menggembirakan. Masih perlu edukasi lagi," imbuhnya.

Menurutnya, melihat perkembangan kurang menggembirakan ini, sudah waktunya ada denda untuk pelanggar prokes. Kiai Muqit menyebutkan besaran denda bisa antara Rp 25.000 sampai Rp 50.000.

"Tergantung perkembangan di lapangan. Kalau denda Rp 25.000 bisa menimbulkan dampak positif, maka bisa diterapkan seperti itu," tegasnya.

Jika mengacu Peraturan Bupati Jember tentang penegakan prokes di masa pandemi Covid-19, memang tidak ada sanksi berupa uang. Namun dalam Peraturan Gubernur Jawa Timur, diatur denda sampai maksimal Rp 250.000 bagi pelanggar prokes yaitu memakai masker, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan, serta mencuci tangan memakai sabun.

Operasi yustisi merupakan operasi yang dipakai aparatur pemerintah untuk menegakkan disiplin protokol kesehatan itu. Salah satu hal yang ditegakkan adalah pemakaian masker.

Setiap hari Satgas Penanganan Covid-19 Jember melakukan operasi yustisi itu. Selain operasi yustisi, tim juga melakukan pemantauan di sejumlah tempat keramaian. Di setiap operasi yustisi, hukuman yang diberikan adalah sanksi sosial, belum ada sanksi atau denda uang diterapkan bagi pelanggar.

Sementara di sisi lain, angka positif baru Covid-19 di Jember selama tiga pekan terakhir semakin tinggi. Sejak berakhirnya cuti bersama awal November ini, setiap hari temuan kasus baru mencapai belasan sampai puluhan.

"Bahkan kemarin mencapai 107 kasus baru untuk yang terkonfirmasi positif. Ini semakin mengkhawatirkan. Meskipun hari ini kembali turun. Kami harapkan terus menurun angka positifnya," tegas Kiai Muqit.

Karenanya, ia kembali mengimbau masyarakat untuk disiplin menjalankan p3M (memakai masker, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan, mencuci tangan memakai sabun).

Berdasarkan data hingga 20 November 2020, kasus positif Covid-19 di Jember mencapai 1.878, dengan rincian 1.446 pasien sembuh, 362 masih dirawat, dan 70 meninggal. Pada 20 November ada tambahan kasus baru sebanyak 54 kasus, dan 31 orang dinyatakan sembuh. ****

Penulis: Sri Wahyunik
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved