Pilkada Lamongan 2020

Reaksi Budayawan Alumnus Fisip Unair Seusai Debat Publik Perdana Paslon Pilkada Lamongan 2020

Debat publik perdana Pilkada Lamongan 2020 (14/11/2020) Sabtu malam digelar KPU di salah satu stasiun TV swasta

Penulis: Hanif Manshuri | Editor: irwan sy
hanif manshuri/suryamalang.com
Budayawan alumnus Fisip Unair, Viddy Ali Mahfud Daery, ketika mengamati berlangsungnya debat publik paslon Pilkada Lamongan 2020 yang digelar oleh KPU Lamongan di salah satu stasiun TV swasta, Sabtu (14/11/2020) malam. 

SURYA.co.id I LAMONGAN - Debat publik perdana Pilkada Lamongan 2020 (14/11/2020) Sabtu malam yang digelar KPU di salah satu stasiun TV swasta memunculkan  penilaian oleh budayawan terkemuka, alumnus Fisip Unair, Viddy AD. 

Ia menilai pasangan calon nomor urut 2 Yuhronur Efendi-Abdul Rouf terlihat lebih leluasa menyampaikan semua gagasan dan visi misi.

Menurut Viddy, jawaban Yuhronur juga mampu dikuasai dengan memberikan solusi yang cukup beralasan. 

"Ini karena Yuhronur  sebagai seorang mantan birokrat, ASN 34 tahun dan Sekda selama 9 tahun yang menguasai menejemen sehingga apa yang disampaikan adalah berdasarkan realita tanpa harus menutupi yang masih menjadi kekurangan,  " kata Viddy AD,  saat ditemui Surya.co.id  di rumah kelahirannya Laren,  Minggu (15/11/2020).

Ia  menilai, keduanya terlihat bisa berbagi waktu dan bisa bertanya lebih mendalam, bahkan Abdul Rouf yang mempresentasikan ulama NU juga menunjukkan kemampuannya dengan santun. 

Ia bertanya pada Cabup Kartika Hidayati juga tanpa memakai kalimat menohok dan menyinggung selama kepemimpinan Kartika selama menjabat sebagai Wabup Lamongan. 

"Pak Yuhronur juga menjawab dengan normatif tanpa harus menjungkir sang penanya,  baik Suhandoyo maupun Kartika," ungkapnya. 

Namun secara umum, debat berjalan landai, normatif dan datar.

Ia menyebut belum terlihat progresivitas, khususnya dalam menawarkan gagasan- gagasan progresif untuk perubahan dan perbaikan. 

Hal positif yang bisa dilihat dalam debat ini semua paslon punya respek dan debat berjalan cukup kondusif dan konstruktif. Belum muncul kalimat - kalimat membantai. 

"Ya sebagai sebuah panggung debat pilkada terbuka menurut saya sudah cukup konstruktif kendati tidak terlihat mendalam masih permukaan  dan embrio saja,  belum substantif progresif," tandasnya. 

Paslon nomor urut 2 karena berpengalaman di birokrasi sehingga bisa menguasai permasalahan dan juga memberi solusi.

Ketenangannya juga bagus, gaya komunikasi lebih formal.

Sedangkan pasangan calon nomor urut 3 setelah ia amati, mereka berusaha berada di tengah dengan gaya komunikasi kombinatif.

"Terlihat taktis, tetapi kelihatan belum bisa komunikatif, " katanya.

Viddy menambahkan debat terbuka terkait visi misi ini harus dibiasakan dan sangat baik, sehingga masyarakat mengetahui tentang rencana kedepan seorang pemimipin.

"Kalau perlu PWI Lamongan juga harus menggelar debat serupa untuk para Paslon," pungkasnya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved