Breaking News:

Berita Jember

Wujudkan Jember 'Rumah' Perlindungan Terbaik, Plt Bupati Deklarasikan Sekolah Ramah Anak

Sekolah Ramah Anak (SRA) yang dicanangkan Pemkab Jember sejak 2019 merupakan perlindungan anak dari segala tindak kekerasan

surya/sri wahyunik
Pemkab Jember menggelar deklarasi Sekolah Ramah Anak Taman Kanak-Kanak se-Kabupaten Jember, Rabu (11/11/2020) 

SURYA.CO.ID, JEMBER - Pembentukan Sekolah Ramah Anak merupakan salah satu indikator Jember yang selama ini mengklaim sebagai Kabupaten Layak Anak (KLA). Karena anak-anak harus terbebas dari eksploitasi, diskriminasi, perundungan (bullying), juga kekerasan.

Hal ini ditegaskan Plt Bupati Jember, KH Abdul Muqit Arief dalam sambutannya saat deklarasi Sekolah Ramah Anak Taman Kanak-Kanak se-Kabupaten Jember, Rabu (11/11/2020).

Pernyataan ini kembali ditegaskan ketika wawancara dengan wartawan. Menurut Kiai Muqit, dalam masa tumbuh kembang, anak-anak tidak boleh mendapatkan tindakan kekerasan fisik dan psikis.

"Apakah bullying, diskriminasi, eksploitasi, kekerasan fisik, atau psikis. Itu tidak boleh. Menjadi tanggung jawab kita semua, anak-anak harus mendapat lingkungan tumbuh kembang yang mendukung mereka," tegas Kiai Muqit.

Kiai Muqit mengutip tiga (tri) pusat tempat pendidikan yang digaungkan oleh Ki Hajar Dewantara. Yakni, pendidikan di keluarga (rumah), sekolah, dan masyarakat/lingkungan.

Sekolah Ramah Anak (SRA) yang dicanangkan oleh Pemkab Jember sejak 2019 merupakan upaya perlindungan anak dari segala tindak kekerasan.

“Anak harus juga diajari tentang toleransi. Jika anak suku Jawa kumpul dengan suku Madura, bahkan berbeda agama sekalipun, maka anak sudah belajar tentang bhineka tunggal ika,” ujar Kiai Muqit.

Ditambahkan pula, program SRA dalam ruang lingkup pendidikan tidak bisa berdiri sendiri. Karena itu, lanjutnya, perlu keseimbangan dan kerjasama berbagai pihak. Hal itu sebagaimana tertuang dalam Tri Pusat Pendidikan Ki Hajar Dewantara, yakni pendidikan sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Lebih jauh Kiai Muqit mengimbau agar guru dan kepala sekolah ikut serta menyosialisasikan program SRA kepada masyarakat, khususnya kepada para orangtua.

Seorang guru TK, Any Junaidah Alfiani yang mengikuti deklarasi mengatakan, deklarasi RSA menuntut pendidik lebih bersikap ramah dan memahami kharakter anak.

Kendati tidak terlalu jauh perbedaan cara mendidik anak dengan sebelumnya, guru di TK ABA Kaliwates itu menegaskan, deklarasi RSA mengingatkan para pendidik agar lebih mengerti dan memahami anak. “Jadi, kami tidak boleh memperlakukan anak sebagai orang dewasa,” tuturnya.

Berdasarkan data dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jember, pada 2020 ini ada 800 lembaga TK yang mengikuti deklarasi SRA. Sedangkan pada 2019 ada 36 lembaga pendidikan dari TK, SD, dan SMP yang mendeklarasikan diri sebagai Sekolah Ramah Anak. ****

Penulis: Sri Wahyunik
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved