Breaking News:

Azrul Ananda soal Kompetisi bakal Dilanjut Awal Tahun: Kalau Dipaksakan Tak Ada Sisi Bisnisnya

PSSI dan PT LIB tetap ngotot akan memulai kembali lanjutan kompetisi musim ini pada awal tahun 2021.

foto: persebaya untuk surya.co.id
Prisen Klub Persebaya Surabaya, Azrul Ananda. 

SURYA.co.id | SURABAYA - PSSI dan PT LIB tetap ngotot akan memulai kembali lanjutan kompetisi musim ini pada awal tahun 2021.

Berdasarkan keputusan terbaru PT LIB, lanjutan kompetisi musim 2020 akan digelar Februari-Juli 2021.

Menanggapi hal itu, Presiden klub Persebaya, Azrul Ananda saat diwawancarai Surya.co.id secara virtual  menilai upaya tersebut (lanjutan kompetisi) menempatkan kompetisi musim ini tidak ada sisi bisnis.

Atau tidak menjadikan sepak bola sebagai industri seperti yang dilakukan di banyak kompetisi dunia.

"Kalau dipaksakan jalan, saya merasa ini sudah tidak punya sisi bisnis, tidak punya visi industri karena  memaksakan sesuatu yang hampir tidak mungkin terjadi," kata Azrul, Selasa (10/11/2020).

Akibat memaksakan tetap digulirkan, klub harus mendapati situasi sulit, terutama kaitannya dengan sisi finansial.

"Ini masih menunda yang kemarin, jadi kami belum bisa memikirkan yang 2021, jadi anggaran tahun ini bisa dobel," tutur Azrul.

Tidak hanya anggaran dobel, Azrul menegaskan, penundaan kompetisi musim ini hingga tahun depan, menuntut klub cermat dalam menjaga stabilitas tim.

"Rumit dari sisi kontrak sponsor, kontrak pemain, dan berbagai komitmen yang harus dilakukan klub dengan berbagai pihak," jelas suami dari Ivo Ananda itu.

Kondisi itu akan mengganggu stabilitas finansial tim. Padahal selama ini ia menyebut mayoritas klub di Indonesia masih tergantung terhadap pemasukan sponsor, tiket pertandingan dan merchandise tim.

Poin itu menjadi berkurang karena kompetisi musim ini akan berjalan tanpa penonton.

"Kalau di luar negeri tanpa penonton tidak masalah, pemasukan utamanya bukan dari penonton dan sponsor di baju, tapi dari revenue sharing yang dijaring oleh liga dari hak siar TV," ucap Azrul.

Sehingga kompetisi dijalankan tanpa penonton tidak mengganggu stabilitas finansial klub, karena mendapat revenue yang cukup.

"Di Indonesia, kalau hanya mengandalkan revenue dari liga, mohon maaf klub hanya mendapat 5 miliar setahun, itu menggaji satu pemain belum tentu cukup," pungkasnya.

Penulis: Khairul Amin
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved