Seminar Sinergitas Nasional, Pakde Karwo Tegaskan Posisi DPRD Legislatif Bukan Pegawai Pemda

Pakde Karwo menyampaikan, bahwa anggota DPRD baik provinsi, kabupaten maupun kota membawa aspirasi dan perwakilan rakyat daerah.

Penulis: Bobby Constantine Koloway | Editor: Cak Sur
Istimewa
Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia (Wantimpres RI), Soekarwo saat menjadi narasumber Seminar Sinergitas Nasional Anggota DPRD Se-Indonesia, Jumat (6/11/2020) malam. 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia (Wantimpres RI), Soekarwo menjelaskan kedudukan legislatif dalam sistem pemerintahan provinsi dan daerah. Ia mengingatkan DPRD bukan pegawai pemda.

Hal ini dikemukakan Pakde Karwo, sapaan akrab Soekarwo, saat menjadi narasumber Seminar Sinergitas Nasional Anggota DPRD Se-Indonesia, Jumat (6/11/2020) malam. Bertema “Kedudukan Anggota DPRD Sebagai Pejabat Daerah Dalam Sistem Pemerintahan Pada Saat Ini” acara ini berlangsung di Badung, Bali.

Pakde Karwo mengingatkan pentingnya konsistensi dalam melaksanakan hukum tata negara sesuai konstitusi UUD 1945. DPRD provinsi maupun kabupaten/kota memiliki tiga peran, yakni fungsi legislasi (pembuat aturan), budgeting (pembuat anggaran) dan controlling (pengawas).

Dalam kesempatan itu, Pakde Karwo menyampaikan, bahwa anggota DPRD baik provinsi, kabupaten maupun kota dipilih langsung oleh rakyat. Mereka membawa aspirasi dan perwakilan rakyat daerah.

DPRD juga memiliki fungsi legislasi, anggaran dan pengawasan.

“Oleh karena itu meletakan fungsi DPRD menjadi quasi (seperti) eksekutif adalah bertentangan dengan UUD 1945," kata Pakde Karwo dikutip dari rilis yang diterima SURYA.CO.ID, Sabtu (7/11/2020).

"Sebab, anggota DPRD itu adalah Legislatif, bukan pejabat daerah,” kata Pakde Karwo, yang juga Ketua Dewan Pertimbangan Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara Indonesia (APHTN-HAN) ini.

Pakde Karwo menjelaskan, fungsi dan peran wakil rakyat diatur dalam sejumlah pasal di UUD 1945 di antaranya pada bab II pasal 2 dan pasal 3, kemudian bab VI pasal 18 ayat 1 hingga 7. Selain itu, bab VII pasal 20, 20A, 21, 22 dan pada bab VII A pasal 22D.

Untuk itu, Pakde Karwo mengusulkan agar sejumlah aturan teknis baik peraturan pemerintah maupun peraturan presiden harus meletakan DPRD pada ranah trias politika di legislatif.

“Perlu konsitensi penekanan kemurnian pelaksanaan hukum tata negara menurut UUD 1945, jangan ada PP dan Perpres yang bertentangan dengan aturan di atasnya,” terang mantan Gubernur Jatim dua periode ini.

Karena konstitusinya sudah jelas, bahwa konsep legislatif di Indonesia adalah MPR, DPR, DPD RI dan DPRD Provinsi/Kabupaten/Kota. Namun, ketika di UU 23/2014 memasukkan DPRD sebagai pejabat daerah, di sini menjadi tidak sesuai konstitusi. Padahal DPRD itu legislatif tidak sama dengan eksekutif.

“Oleh sebab itu, DPRD tidak bisa disetarakan dengan OPD (Organisasi Perangkat Daerah),” terangnya.

Narasumber lain dalam seminar ini adalah anggota Komisi II DPR asal Fraksi Partai Golkar, Zulfikar Arse Sadikin dan Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) Kementerian Keuangan, Astera Primanto Bhakti. Seminar ini dihadiri oleh perwakilan DPRD Provinsi dan DPRD Kota/Kabupaten se-Indonesia.

Juga, menghadirkan tiga nara sumber lain yang hadir secara virtual yaitu Menteri Kordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia Moeldoko dan Sekretaris Jenderal Kemendagri Muhammad Hudori.

Ketua Panitia Seminar yang juga Ketua Komisi A DPRD Jawa Timur, Istu Hari Subagio mengemukakan pengelolaan keuangan daerah merupakan bagian integral dari penyelenggaraan pemerintahan yang berlandaskan prinsip otonomi daerah dan desentralisasi.

“Kami berharap seminar ini bisa memberikan pandangan baru terhadap perspektif otonomi daerah dan desentralisasi,” kata Istu.

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved