Breaking News:

Siapa 'Petinggi Kita' yang Diucap Irjen Napoleon Bonaparte saat Tolak USD 50.000 dari Djoko Tjandra?

Sosok 'petinggi kita' yang diucapkan Irjen Napoleon Bonaparte dalam dakwaan kasus suap Djoko Tjandra jadi sorotan.

triunnews
Irjen Napoleon Bonaparte dan Brigjen Prasetijo yang sama-sama menjadi tersangka kasus suap pengurusan red notice Djoko Tjandra. 

SURYA.CO.ID, JAKARTA - Sosok 'petinggi kita' yang diucapkan Irjen Napoleon Bonaparte dalam dakwaan kasus suap Djoko Tjandra menjadi pertanyaan besar. 

Sesuai dakwaan yang dibacakan jaksa penuntut umum di Pengadilan Tipikor Jakarta, kata 'petinggi kita' itu diucapkan saat Tommy Sumardi menyerahkan uang USD 50 ribu ke Irjen Napoleon Bonaparte.

Uang itu ditolak Irjen Napoleon Bonaparte karena jumlahnya dinilai terlalu kecil.

Irjen Napoleon menyinggung uang itu tidak hanya untuk dirinya, tetapi petinggi yang menempatkannya. 

Berikut kronologi selengkapnya dikutip dari dakwaan Brigjen Prasetijo Utomo dan Irjen Napoleon Bonaparte, dua tersangka kasus suap Djoko Tjandra:     

Baca juga: Setelah Alpius, Petinggi Koramil Hitadipa Diduga Terlibat Pembunuhan Pendeta Yeremia, Ini Temuannya

Baca juga: Djoko Tjandra Beri Rp 15,5 M untuk Jaksa dan Polisi, Ini Bagian Masing-masing dan detil perannya

1. Prasetijo Kenalkan Tommy Sumardi ke Napoleon Bonaparte

Cerita berawal ketika Djoko Tjandra meminta bantuan rekannya yang bernama Tommy Sumardi mengenai penghapusan red notice yang ada di Divhubinter Polri.

Sebab, Djoko Tjandra yang kala itu berstatus buron perkara pengalihan hak tagih Bank Bali tengah berada di Malaysia dan ingin ke Indonesia untuk mengurus upaya hukum Peninjauan Kembali (PK) ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Tommy Sumardi pun meminta bantuan Brigjen Prasetijo.

"Untuk mewujudkan keinginan Joko Soegiarto Tjandra, pada tanggal 9 April 2020, Tommy Sumardi mengirimkan pesan melalui whatsapp berisi file surat dari saudara Anna Boentaran istri Joko Soegiarto Tjandra yang kemudian terdakwa Brigjen Prasetijo meneruskan file tersebut kepada Brigadir Fortes, dan memerintahkan Brigadir Fortes untuk mengeditnya sesuai format permohonan penghapusan red notice yang ada di Divhubinter. Setelah selesai diedit Brigadir Fortes mengirimkan kembali file tersebut untuk dikoreksi Brigjen Prasetijo, yang selanjutnya file konsep surat tersebut dikirimkan oleh Brigjen Prasetijo kepada Tommy Sumardi," ujar jaksa.

Halaman
1234
Editor: Musahadah
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved