Kamis, 23 April 2026

Berita Malang Raya

Sektor Pertanian di Malang Masih Dominan, Tetapi Tiga Paslon Kurang Perhatian

tiga paslon dalam Pilkada Kabupaten Malang kurang mendapat perhatian sebagai cara meningkatkan kesejahteraan sosial

Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Deddy Humana

SURYA.CO.ID, MALANG - Pengamat politik Universitas Brawijaya (UB), Wawan Sobari menyatakan bahwa dalam pilkada Kabupaten Malang 2010 dan 2015, isu-isu yang sifatnya program dari pasangan calon Bupati Malang, tidak banyak diperhatikan warganya. Hal ini karena warga Malang hanya melihat figur dalam memilih calonnya.

"Masyarakat Kabupaten Malang lebih melihat pada kekuatan figur. Saya melihat itu dari pengalaman sebelumnya," jelas Wawan, Jumat (30/10/2020).

Namun Wawan menilai bahwa debat publik yang ditayangkan di televisi dan YouTube sebagai hal baik agar publik lebih tahu tentang para pasangan calon (paslon). Apalagi debat publik pertama itu mengangkat tema kesejahteraan sosial.

Dari visi misi tiga paslon dalam Pilkada Kabupaten Malang, Wawan menilai sektor pertanian kurang mendapat perhatian sebagai cara meningkatkan kesejahteraan sosial.

"Apa mau konsisten agraris atau seperti apa? Sebab sekarang banyak alih fungsi lahan. Terutama di wilayah lingkar Kota Malang. Yang paling masif terjadi di Kecamatan Pakis dan Kepanjen. Apalagi nanti akan ada jalan tol ke Kabupaten Malang," kata dosen politik UB ini.

Meski hal ini akan menimbulkan masalah, tetapi di sisi lain sebagai kesempatan. Sebab sesuai data BPS, sarana penunjang pertanian di Kabupaten Malang termasuk cukup. Dan sumber penghasilan warga Kabupaten Malang terbesar adalah dari sektor pertanian.

Kemudian dari sisi wilayah, di Kabupaten Malang ada 390 desa/kelurahan. Dan 378 di antaranya adalah desa dan 12 kelurahan. Sehingga wajar kalau Lahan-lahan pertanian sebagai penghasilan utama harus dipertahankan.

Wawan juga menyinggung kemungkinan warga pedesaan di Kabupaten Malang yang ingin bekerja di kota. Kalau itu terjadi maka pertanian harus dimodernisasi agar menarik minat masyarakat. Meski tidak mudah, tetapi itu harus dilakukan agar pertanian tidak terdegradasi.

"Karena itu pertanian harus direvitalisasi. Ini sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan sosial," tandasnya.

Wawan menegaskan pula, salah satu alasan bahwa sektor pertanian kurang mendapat perhatian dari paslon, adalah mungkin dianggap kurang kekinian. "Coba dilihat dari visi misi paslon, ada nggak yang fokus di pertanian? Gak ada. Padahal basic-nya Kabupaten Malang ya pertanian," ujar Wawan.

Lantas ia menyebut paslon nomor 01 (Sandi), juga tidak ada yang membahas pertanian. Ada dari sisi ekonomi, tetapi lebih pada potensi lingkungan hidup, industri berkelanjutan.

"Kemudian paslon Ladub mengangkat ekonomi kreatif. Tetapi belum ke pertanian kreatif. Begitu juga di paslon nomor 03, belum detail soal konsep ekonomi terukur. Padahal penghasilan masyarakat di Kabupaten Malang dari pertanian," katanya.

Menurut Wawan, ia pernah menggali data tentang IPM di Kabupaten Malang yang pada 2019 masih di bawah Jawa Timur. Selisihnya 1,1 poin, meski masih bagus dibanding kabupaten-kabupaten lain di Jatim.

Juga isu kemiskinan bisa diangkat. Data warga miskin pada 2019 sebesar 9,47 persen. Sedangkan Jawa Timur 10,37 persen. Tetapi karena jumlah penduduk Kabupaten Malang sekitar 2,5 juta jiwa, maka hasil akhirnya cukup banyak, yaitu sekitar 250.000 jiwa. "Jadi (angka kemiskinan) cukup tinggi," jawabnya.

Dan pada akhirnya, Wawan menyarankan adanya pelibatan masyarakat dalam pembangunan. "Ajaklah masyarakat untuk berbicara lewat kebutuhan dan permintaannya," kata Wawan. ****

Sumber: Surya Malang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved